Adiwastra Nusantara 2012, Showcase of Traditional Fabrice of the Archipelago

kain batik

Indonesia berabad-abad yang lalu sudah terkenal dengan kain tenun nya.  Sektor perdagangan yang maju pesat di bumi nusantara ketika masa kerajaan, membawa kain tenun menjadi salah satu komoditi yang diperdagangkan selain rempah-rempah.

Kekayaan kai n tenun Indonesia yang memiliki nilai historis dan filosofis ini diangkap oleh pemerintah Indonesia melalui kegiatan “Adiwastra Nusantara 2012, Showcase of Traditional Fabrice of The Archipelago” atau “Pesona Tenun Nusantara”.

Adiwastra Nusantara yang diselenggarakan di Hall A dan B Balai Sidang Jakarta pada 15-19 Februari 2012 ini bukanlah yang pertama diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementrian Perindustrian bekerjasama dengan Kementrian Perdagangan dan Kementrian Koperasi dan UKM. Tahun sebelumnya acara serupa juga di lakukan di tempat yang sama.

Untuk memasuki ruang acara, pengunjung dikenakan tiket seharga Rp. 10.000,-/orang. Dan apabila pengunjung ingin memiliki katalog kegiatan, pengunjung  dapat membeli nya seharga Rp. 10.000,-.

Acara ini menampilkan koleksi-koleksi kain dari Museum Tekstil Indonesia, Hartono Sumarsono, Alfonsa Horeng, Caecilia Papadimitriou, Edith Ratna Soerjosoejarso dan  Mitra Binaan Bank BRI.

Pada selasar sebelum masuk ke booth-booth penjualan, pengunjung dapat melihat showcase kain tenun tradisional Indonesia, seperti kain tenun dari Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat dll.  Showcase  kain tenun ini  ditampilkan lengkap dengan pewarna alami dan alat tenun dari masing-masing daerah.

Tidak hanya kain tenun yang dipamerkan pada acara ini, melainkan juga kain batik, baik yang dibuat di dalam negeri maupun luar negeri, yang dipamerkan dalam judul “Batik Indonesia Melintasi Benua”.  Di tempat showcase tersebut, pengunjung dapat menyaksikan batik karya orang asing.

Sedangkan salah satu booth kain batik karya anak negeri sendiri yang banyak diminati yaitu booth Batik Ibu Sudami. Pada booth ini, terlihat dua orang perempuan memakai kain batik dan kebaya khas Jawa, dengan rambut di gelung, sibuk mengambilkan batik-batik yang tertumpuk di depannya untuk para pembeli.

Booth lain yang menarik yaitu booth kebaya nyonya atau kebaya encim bermerek Selia Kebaya. Kebaya berbordir asal Jawa Barat ini dijual dengan harga mulai 375.000 sampai dengan jutaan, sesuai dengan kerumitan motif dan bahan kebaya.

Secara keseluruhan acara ini menarik dilihat dan dapat memberi pengetahuan budaya mengenai kain tradisional Indonesia, khususnya kain tenun.  Kain tenun yang ramah lingkungan dan memiliki nilai filosofis serta historis yang lekat dengan perkembangan masyarakat Indonesia, seyogyanya menjadi bagian dari budaya bangsa yang harus dilestarikan.

Sayangnya, dengan harga tiket yang lumayan, menjadikan acara ini bukanlah  target untuk penyebaran pengetahuan budaya bagi generasi muda, terutama anak-anak pelajar dan mahasiswa,  melainkan acara perdagangan atau penjualan kain tradisional Indonesia, yang sebetulnya pengunjung dapat akses di berbagai tempat di Jakarta seperti Thamrin City, Alun-alun Indonesia, Sarinah atau Pasaraya.

Padahal, generasi muda-lah yang akan menjadi penerus budaya bangsa di masa-masa mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s