Buddhisme in Nusantara (Bambang Budi Utomo)

buddha

Sampai saat sekarang tidak begitu jelas kapan tepatnya agama Buddha masuk ke Indonesia atau nusantara ini. Siapa yang membawanya, apakah para pedagang dari India, yang merupakan tempat asal ajaran Siddharta Gautama?

Karena diperkirakan ajaran Buddha sudah masuk sejak abad ke-5 atau ke-6, tidak jauh berbeda dengan ajaran Hindu. Para ahli sejarah pun hanya bisa memperkirakan tahun kedatangan dari benda-benda bersejarah peninggalan pada masa kerajaan Buddha di nusantara.

Salah satu keterangan yang bisa didapat mengenai masuknya ajaran Buddha di nusantara dengan mempelajari benda-benda bersejarah yang dilakukan oleh seorang Arkeolog. Adalah bapak Bambang Budi Utomo, salah satu arkeolog yang kompeten dan konsisten dalam mempelajari masuknya dan perkembangan ajaran Buddha di nusantara.

Melalui bukunya yang berbahasa Inggris, berjudul “Buddhisme in Nusantara,” pak Bambang Budi Utomo atau biasa di sapa pak Tomi, memberikan informasi mengenai perkembangan ajaran Buddha di nusantara setelah melakukan penelitian arkeologi di beberapa situs peninggalan ajaran Buddha di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa dan Bali.

Di dalam buku tersebut, pak Tomi menyatakan bahwa terdapat dua kerajaan besar yang memiliki agama resmi Buddha di nusantara pada masa kerajaan-kerajaan berkuasa di nusantara, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Mataram di Jawa Tengah, yaitu Dinasti Sailendra, yang dikenal sebagai penggagas candi Borobudur.

Pada buku ini, pak Tomi menceritakan bangunan-bangunan peninggalan dinasti kerajaan penganut Buddha yang masih tersisa seperti  Candi Borobudur dan Muara Takus, di Jambi. Pada artefak penganut Buddha yang ditemukan, ternyata memiliki kesamaan bentuk dengan artefak Hindu, seperti patung sang Buddha yang memiliki posisi serupa dengan patung Siwa, Brahma dan Wishnu, tiga dewa yang dipuja dalam agama Hindu.

Kemudian pada bentuk bangunan, beberapa candi pemujaan ajaran Buddha memiliki aristektur yang mirip dengan candi ajaran Hindu, bahkan cenderung sangat mirip, kecuali candi yang aristektur nya dengan stupa seperti Candi Borobudur atau Muara Takus. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat sinkretisme dari kedua kepercayaan tersebut di bumi nusantara.

Buku ini merupakan buku yang penting untuk dapat dibaca oleh pemerhati budaya dan ahli agama serta para generasi muda dari berbagai kalangan, bahwa dari artefak yang ditemukan di selama ini, ternyata nusantara, atau Indonesia sekarang, pernah menjadi pusat dari ajaran agama Buddha di dunia. Dan hal tersebut merupakan sejarah keemasan kerajaan nusantara yang harus dicatat dan diingat oleh generasi penerus bangsa. (Diyah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s