Catatan Diskusi Film tentang Perempuan Penari Ronggeng

101_0611

“Peristiwa 1965 merupakan peristiwa yang kompleks, penuh dengan pertentangan antara apa yang disebut modernitas dan tradisional. Dan generasi muda sekarang berhak mendapatkan pengetahuan sejarah mengenai peristiwa yang terjadi pada 1965 dalam berbagai perspektif,” hal tersebut merupakan kesimpulan pada Diskusi Film “Sang Penari” yang berlatarbelakang peristiwa 1965 pada kehidupan seorang penari Ronggeng.

Selain membahas mengenai peristiwa 1965, tentunya diskusi juga membahas mengenai film yang diputar, yaitu Sang Penari, sebuah film yang diangkat dari novel karya Ahmad Tohari, berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk.” Cerita ini mengambil latarbelakang masyarakat Banyumas, yang memiliki tradisi adanya penari Ronggeng sebagai perlambang jati diri Dukuh Paruk.

Tradisi Ronggeng di Dukuh Paruk menampilkan mitos-mitos yang mengelilingi si perempuan penari Ronggeng, sehingga perempuan menjadi komoditas pada dunia seni lokal. Dunia ronggeng merupakan dunia seni yang penuh dengan tradisi dan kepercayaan terhadap leluhur dan alam, yang terkait erat dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Perempuan sebagai komoditas pada seni lokal dapat ditemui di berbagai tempat di Asia. Tradisi Ronggeng yang mengadakan upacara ‘buka kelambu’ yaitu upacara memberikan keperawanan si penari Ronggeng kepada pembayar tertinggi, sama dengan tradisi Geisha (penari dan penyanyi tradisional) di Jepang.

Adanya tradisi menjadikan perempuan sebagai komoditas pada prakteknya di balut dalam tradisi lokal yang selaras dengan alam namun sebetulnya sekaligus melegalkan ‘kekuasaan’ pada tubuh perempuan. Perempuan pada akhirnya tidak memiliki ‘kekuasaan’ pada tubuhnya sendiri.

Pada diskusi film yang diselenggarakan oleh tiga komunitas di Jakarta yaitu Sekitarkita, Tutur Perempuan dan Youth Network, menghadirkan tiga pembahas yaitu Nani Nurani (seorang penari pada tahun 1960-an), Ruth Indiah Rahayu (Aktivis perempuan) dan siswa SMU pemenang lomba essay tentang peristiwa 1965 yang diselenggarakan oleh People’s Empowerment Consorsium/PEC.

Diskusi diadakan di Kineforum, Cikini Jakarta, masih dalam rangka peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. (dy)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s