Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi (Djoko Soekiman)

“Hallo, jij fan waar?” (halo, kamu darimana?)

“Ya fa school tierlek” (ya dari sekolah tentu saja)

“Iki lo mij tas” (ini lo tasku)

Percakapan dengan memakai bahasa Belanda dan Jawa, seperti itu kerap terdengar pada masa kebudayaan Indis berjaya di Indonesia. Kebudayaan Indis yang merupakan campuran Jawa dan Eropa (khususnya Belanda) telah meninggalkan jejak-jejak budaya di Indonesia, terutama dalam seni bangunan dan kerajinan.

Kebudayaan Indis mencapai masa jayanya di Indonesia pada masa  VOC sampai dengan masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada awalnya kebudayaan Belanda mendominasi di Indonesia, terutama Jawa. Namun lambat laun kebudayaan ini mulai bercampur baur terutama ketika terjadi pernikahan dengan masyarakat lokal sehingga membentuk kebudayaan baru yang di sebut kebudayaan Indis.

Percampuran kebudayaan melalui pernikahan merupakan hal yang biasa, terutama ketika masing-masing pasangan tetap mempertahankan kebudayaannya masing-masing. Dalam kebudayaan Indis ini, si laki-laki, yang kebanyakan orang Belanda menikahi dengan perempuan lokal (sering di sebut Nyai), dan mengembangkan kebudayaan yang merupakan perpaduan keduanya.

Pada masa awal VOC dan pemerintahan Belanda, banyak laki-laki Belanda yang tidak membawa isteri atau masih jarangnya perempuan Belanda yang tinggal di Hindia Belanda (nama Indonesia pada masa lalu), dengan alasan jaraknya yang jauh dan belum jelasnya situasi keamanan untuk tinggal di tempat asing.

Buku “Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” ini merupakan hasil disertasi dari pak Djoko Soekiman, dosen Fakultas Sastra di UGM Yogyakarta sejak tahun 1963. Disertasinya yang mengungkap mengenai kebudayaan Indis merupakan satu-satunya buku yang mengupas mendalam mengenai kebudayaan Indis yang sudah makin punah dikarenakan peninggalan budayanya seperti bangunan mulai di runtuhkan atau di ganti dengan bangunan yang sudah modern atau di anggap lebih Indonesia.

Pada masa kemerdekaan, ketika sentimen terhadap segala sesuatu yang dianggap asing atau Belanda/Eropa meningkat, maka pengrusakan terhadap benda-benda budaya Indis pun terjadi. Akhirnya sekarang ini hanya sedikit yang masih tersisa di Indonesia, terutama di pulau Jawa seperti bangunan gereja atau bangunan bekas bangunan pemerintahan Belanda.

Padahal kebudayaan Indis merupakan kebudayaan yang unik, yang banyak di temui di Hindia Belanda/Indonesia pada masanya. Bangunan-bangunan yang dibangun pada masa itu umumnya mengadopsi gaya Eropa sekaligus gaya lokal. Misalnya dengan memakai genteng untuk atapnya tapi memakai kayu jati yang lebih tahan lama di musim tropis dan tahan gempa, pada tiang atau pembatas ruangan (gebok). Jendela-jendela pun dibuat lebar lebih lebar dari jendela rumah di Belanda sehingga memungkinkan hawa sejuk daerah tropis masuk. Para pelaku budaya Indis ini juga seringkali menempelkan simbol-simbol yang berhubungan dengan budaya nya seperti adanya arah angin di atap bangunan, yang berbentuk ayam jantan. Ayam jantan merupakan simbol kekuatan pada bangsa Eropa.

Salah satu hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini yaitu bagaimana para pelaku kebudayaan Indis mempraktekkan budaya Indis dengan secara berlebihan. Rata-rata para pelaku kebudayaan Indis merupakan pejabat pemerintahan Belanda sehingga mereka pun memiliki kebiasaan untuk berpesta dan menghamburkan uangnya untuk membuat rumah dengan dekorasi yang bagus, yang memadukan unsur Eropa dan lokal (Jawa). Mereka juga memiliki banyak budak dari masyarakat lokal yang mengurusi rumah, kebun dan petenakan mereka. Sedangkan mereka sendiri, sering hanya bersenang-senang dan bersantai di rumah mereka.

Pada saat kebudayaan Indis tersebut berlaku di Jawa, bangunan tempat tinggal merupakan hal yang paling jelas dapat dilihat apakah pemiliknya orang yang berkedudukan tinggi atau tidak. Bangunan tempat tinggal masyarakat lokal pada waktu itu biasanya hanya beratap rumbia atau daun kelapa, berdinding bambu dan berlantai tanah. Sementara para pejabat tinggal di bangunan dari bata atau batu, dengan lantai ubin atau terakota. Selain para pejabat pemerintahan Belanda, dan kaum bangsawan Jawa, hanya masyarakat peranakan Tionghoa dan peranakan Arab lah yang memiliki tempat tinggal yang bagus.

Kebudayaan Indis telah menghasilkan pengaruh negatif dan positif dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu. Pengaruh negatif yaitu dengan menampilkan adanya bangunan mewah yang membedakan dengan masyarakat biasa dan adanya perbudakan. Dan pengaruh positif yaitu dengan adanya budaya disiplin dan mejaga kebersihan.

Meskipun kebudayaan Indis lahir dari masa pemerintahan Belanda, kebudayaan Indis tetap merupakan salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia, seperti kebudayaan Peranakan Tionghoa atau Peranakan Arab. Dan, semestinya kita bisa mengambil aspek positif dari kebudayaan Indis dan tetap melestarikan segi positif kebudayaan Indis  sebagai bagian dari kebudayaan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s