Peh Cun

Dua perahu dengan kepala naga khas Tiongkok melaju di atas sungai Cisadane. Kedua perahu tersebut dapat melaju dengan cepat oleh dayungan 20 orang lebih diatas perahu. Selain mendayung, para pendayungpun sesekali berteriak untuk memberi semangat terus mendayung. Tidak hanya para pendayung, terdapat juga orang yang memberi komando untuk terus mendayung dan yang memainkan tambur atau genderang sehingga menjadi ramai di sisi depan perahu.

Kedua perahu terus melaju menembus arus sungai Cisadane yang terlihat tenang namun ternyata cukup kuat arusnya, menuju tali yang dibentangkan di atas sungai dengan dihiasi pita hijau sebagai pertanda garis akhir. Begitulah suasana lomba perahu naga yang diadakan setiap tahun pada perayaan Toan Jang atau dikenal dengan Peh Cun di Tangerang. Penggunaan perahu naga pada perayaan Peh Cun merupakan simbol memohon keberkahan dari dewa naga yang mengatur sumber kehidupan yaitu air, sehingga bisa menurunkan hujan lebat dan tanaman menjadi subur.

Festival Peh Cun yang diadakan Perkumpulan Sosial dan Keagamaan Boen Tek Bio, Tangerang ini menjadi agenda tahunan sebagai tradisi dari daratan Tiongkok, bersamaan dengan hari raya Bak Cang atau Duan Wu Jie. Hari raya ini berasal dari masa Chunqiu (periode musim semi dan gugur, 770 Sm – 476 SM).

Peh Cun yang berarti mendayung perahu atau 100 perahu (dialek Hokkien), dilakukan untuk memperingati kematian seorang patriot sekaligus menteri kerajaan Tjou bernama Ch’u Yuan atau Kut Goan (340 SM – 278 SM) yang terkenal jujur dan anti korupsi. Menurut cerita yang dikisahkan secara turun temurun, sang negarawan yang juga seorang filsuf dan penyair kenamaan ini dikarenakan kecewa dengan pemerintahan yang korupsi kemudian memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menceburkan dirinya ke sungai Milo di provinsi Hunan. Ketika rakyat desa mencari jenazahnya, mereka tidak menemukannya dan kemudian muncul ide untuk membuat kue dari daun bambu berbentuk segitiga, yang dinamakan Bak Cang dan Kue Cang, dan dilemparkan ke sungai, guna mencegah jenazah Kut Goan di makan ikan-ikan di sungai.

Adapun perayaan Festival Peh Cun ini diawali dengan sembahyang Ta Wan, guna meminta berkah dari Yang Maha Kuasa agar penyelenggaraan acara berjalan lancar. Kemudian dilakukan pelepasan bebek dan bunga beraneka macam ke sungai.  Baru lomba perahu naga di mulai.

Di Festival Peh Cun ini, perahu yang digunakan merupakan perahu tradisional Tionghoa berupa perahu Naga dan perahu papak. Perahu ini sudah berada di Tangerang sejak jaman Belanda. Dan sebelum lomba dilakukan, diadakan sembahyang untuk lancarnya lomba dan tidak terjadi apa-apa dengan perahu yang dipakai.

Selain lomba perahu naga, di acara ini tentunya juga ditampilkan berbagai macam tari khas Tionghoa, pertunjukan Barongsai dan Liong dari berbagai perguruan di klenteng Tangerang, olahraga Wushu dan musik Gambang Kromong.

Hal yang menarik, pada Festival Peh Cun ini, etnik Tionghoa bersama etnik lainnya bersama-sama merayakan acara ini. Bahkan sejak dua tahun yang lalu, selain Festival Peh Cun, pemerintah kota Tangerang juga turut mengadakan Festival Cisadane untuk menghormati dan memeriahkan keberadaan tradisi etnik Tionghoa ini.  Kebersamaan dan toleransi telah terjadi, dan semoga saja memang akan terus berlangsung di kota Tangerang meskipun tidak ada perayaan apapun.

Bak Cang

Bak Cang, merupakan salah satu makanan khas Tionghoa yang terkenal. Berupa nasi dengan isi daging babi atau ayam dibungkus daun bambu berbentuk segitiga, makanan ini dapat mengenyangkan perut yang lapar. Asal mula Bak Cang dibungkus daun bambu berdasarkan kisah seorang bernama Au Hue mengaku telah bertemu dengan arwah Kut Goan yang mengatakan bahwa kue yang dikirimkan padanya sudah dimakan oleh ikan dan naga sehingga dia tidak kebagian. Karena itu, sang arwah Kut Goan menyarankan menggunakan daun yang kasar dan berduri untuk membungkus, yaitu daun bambu. Tanaman bambu sendiri dalam tradisi Tiongkok kuno menyimbolkan kesetiaan, kesederhanaan dan keagungan. Karena itu tanaman bambu menjadi tanaman paling digemari masyarakat Tionghoa.

Kue Cang

Pada perayaan Peh Cun, masyarakat Tionghoa juga membuat Kue Cang, yaitu kue berbentuk seperti Bak Cang tapi dengan ukuran lebih kecil, terbuat dari ketan dan dimakan dengan gula cair. Kue Cang memang kurang populer keberadaannya dibandingkan dengan Bak Cang. Namun sering digunakan sebagai penangkal bala/kejahatan, dengan cara digantungkan di atas pintu masuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s