Wisata Ibadat ke Mesjid Lautze, Jakarta

Anak kecil berkulit putih dan bermata sipit tersebut berlari-lari di sekitar tempat saya duduk pada Minggu, 24 Juli lalu. Sebetulnya tidak aneh melihat anak kecil dengan ciri-ciri fisik seperti itu di daerah Lautze, Jakarta Pusat, karena etnik Tionghoa memang banyak tinggal di Lautze. Namun yang membedakan anak kecil tersebut dengan etnik Tionghoa lainnya, anak tersebut memakai kopiah putih dan baju koko. Anak tersebut merupakan salah satu anak dari jemaat masjid Lautze. Salah satu masjid yang terkenal di Jakarta karena didirikan pada saat masyarakat Indonesia masih menganggap Islam bukanlah agama dari orang Tionghoa.

Muslim Tionghoa di Indonesia sesungguhnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Di Jakarta misalnya, beberapa mesjid memiliki sentuhan arsitektur Cina seperti Mesjid Luar Batang, Jakarta Utara dan Mesjid Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di negara Cina sendiri, Islam merupakan salah satu agama terbesar yang dianut penduduknya terutama suku Hui.

Di Indonesia, dari berbagai sumber dipercaya bahwa Islam datang bersama para pedagang muslim Cina. Tokoh muslim yang terkenal yaitu Laksamana Cheng Ho, yang berasal dari suku Hui. Beliau bersama para pengikutnya di percaya menyebarkan Islam secara tidak sengaja dalam misi perdamaian mereka di beberapa wilayah di Nusantara.

Komunitas Tionghoa Islam kemudian menjadi unik karena selama ini stereotipe yang terbangun didalam masyarakat yaitu etnik Tionghoa beragama Khonghucu, Buddha atau Kristen. Saya ingat ketika salah satu teman melihat saya sholat lalu berkomentar, ”Kamu kan Tionghoa, kok Islam?” Adanya anggapan yang keliru dari masyarakat non Tionghoa terhadap masyarakat Tionghoa, membuat seringkali etnik Tionghoa kemudian di pertanyakan identitas nya bahkan dalam konteks kehidupan bernegara, rasa nasionalisme nya.

Salah satu komunitas Tionghoa muslim yang di Jakarta yaitu di daerah Lautze. Nama Lau Tze diambil dari nama seorang ahli filsafat Cina (pendiri agama tao) yang mengajarkan kasih kepada sesama manusia, dan makhluk lainnya. Ia dipercaya hidup pada abad ke-4 sebelum masehi (SM).

Pendirian mesjid Lautze oleh Haji Karim Oei Tjeng Hien atau Haji Abdulkarim, seorang Tionghoa muallaf pada 1930, yang wafat pada tahun 1988, sekaligus salah satu penyebar agama Islam di Nusantara, merupakan suatu oase yang dianggap mampu men’dobrak’ persepsi keliru yang ada dalam masyarakat. Mesjid ini menjadi tempat ’pembauran’ muslim etnis Tionghoa dan non Tionghoa.

Haji Karim Oei Tjeng Hien atau Haji Abdulkarim merupakan seorang tokoh Islam, mantan anggota Parlemen RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Pada tahun 1967-1974 ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI dan anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB serta anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Mesjid ini secara lokasi juga unik, karena berdiri antara rumah toko, di gedung berlantai empat di jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru dan memiliki pintu yang berwarna merah khas Tionghoa seperti pintu Klenteng. Di bagian dalam mesjid, seperti bangunan mesjid umumnya, struktur bangunan tidak terlalu istimewa. Satu hal yang istimewa yaitu banyaknya kaligrafi huruf Arab dan huruf Mandarin menghiasi dinding mesjid. Di dekat mimbar imam, terdapat kaligrafi kedua huruf tersebut yang berbunyi ”Ar-rahman” (pengasih/penyayang).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s