Sang Jit, Lamaran Tradisi Tionghoa yang mulai ‘punah’

Lili tersenyum lebar melihat kekasihnya , Awan dan keluarganya datang membawa nampan – nampan dari bamboo berukuran besar. Didalam nampan-nampan tersebut terlihat benda-benda beraneka ragam seperti buah, makanan, perlengkapan sehari-hari dll. Selain itu benda khusus yang dibawa yaitu lilin merah untuk sembahyang. Pada budaya peranakan Tionghoa, tradisi membawa barang-barang khusus ketika melamar, di sebut dengan Sang Jit, Sang Jiet atau Sang Pit (dialek Hakka).

Selain barang-barang, pada waktu tersebut kedua belah keluarga akan membahas mengenai waktu yang tepat kiranya pernikahan dapat dilakukan. Tidak hanya itu, pada saat Sang Jit, keluarga pihak laki-laki akan memberikan amplop berisi uang kepada keluarga perempuan yang sering disebut sebagai “Uang Susu”.

Ketika nampan-nampan besar dan penuh barang dibawa masuk ke rumah, segera saja diletakkan semuanya itu di depan meja sembahyang atau meja abu untuk disembahyangkan. Semua pihak keluarga pun bersembahyang memohon keberkahan dan kelancaran acara Sang Jit dan proses penentuan hari pernikahan.

Setelah disembahyangkan, barang-barang dalam nampan di bongkar dan nampan-nampan tersebut dikembalikan ke keluarga pihak laki-laki dengan diganti oleh barang lain, seperti sepatu, pakaian, sirup dll.

Sedangkan di sebuah kampung di kepulauan Riau, Agus tengah menyiapkan barang-barang untuk melamar secara resmi, Liana pacarnya. Sudah seminggu yang lalu dia menyampaikan maksudnya pada orangtua Liana untuk menikah dengan Liana. Dan hari ini adalah hari resmi lamarannya.

Keluarga Agus sudah menyiapkan banyak barang-barang untuk di bawa ke rumah calonnya. Barang utama yang dibawa yaitu kaki babi, kue kacang dan amplop berisi uang. Sedangkan buah-buahan dan barang lainnya hanyalah tambahan. Pada acara Sang Pit tersebut, Agus juga memberikan amplop berisi uang susu, uang mama dan uang kakak adik. Uang susu merupakan sebutan untuk uang semacam pengganti pemeliharaan anak perempuan dalam keluarga tersebut, uang ini wajib ada dengan jumlah terserah pada pembicaraan kedua keluarga. Sedangkan uang kakak adik hanya diberikan apabila calon Agus memiliki saudara, demikian yang diceritakan oleh Hendra, aktivis pemuda Tionghoa dari Kepulauan Riau

Hendra juga menceritakan bahwa kaki babi sebagai makanan utama yang dibawa melambangkan calon menantu. Biasanya kesemua barang kemudian diletakkan di wadah dari bambu berbentuk bulat, berwarna hitam merah oleh keluarga Agus. Mereka pun bersiap untuk menuju rumah Liana, yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah mereka.

Sang Jit atau Sang Pit, merupakan suatu prosesi acara yang penting bagi keluarga Tionghoa yang masih memegang adat. Tidak hanya sekedar lamaran dan seserahan, tapi Sang jit atau Sang Pit juga merupakan prosesi dari tradisi Tionghoa, yang menggambarkan bahwa keluarga dalam pernikahan adat Tionghoa mendapat peran yang penting. Dukungan keluarga pada peristiwa-peristiwa besar kehidupan seseorang merupakan hal yang diperlukan sehingga orang tersebut dapat menghadapi apapun yang terjadi dalam kehidupannya.

Begitu besarnya makna Sang Jit atau Sang Pit ini, sehingga akan sangat bagus apabila bisa dilestarikan terus. Sayangnya sekarang ini banyak kalangan muda Tionghoa sudah tidak menggunakannya, atau malahan menyederhanakannya, terutama yang berada dalam keluarga kawin campur atau berpendidikan luar negeri. Sang Jit atau Sang Pit ini seringkali dianggap sebagai tradisi Tionghoa yang kuno.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s