Peristirahatan Terakhir Sang Kapitan Tionghoa Pertama

Langit bersinar sangat cerah pagi itu ketika saya tiba di kawasan kota tua Jakarta. Senangnya saya karena pagi-pagi saya sudah berada di kawasan kota tua yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal saya. Pagi ini seharusnya saya menghadiri sebuah workshop di salah satu lokasi di bangunan tua di kawasan kota tua tapi ternyata workshop baru diadakan pada esok hari. Karena saya sudah berada separuh perjalanan ke kota, saya putuskan untuk mengunjungi makam Kapitan Tionghoa yang pertama, Souw Beng Kong, yang sudah lama ingin saya kunjungi. Maka berangkatlah saya menuju ke daerah Pangeran Jayakarta dengan menyewa sepeda onthel.

Untuk mencapai lokasi makam sang Kapitan, kita bisa menyewa sepeda onthel atau ojek dari stasiun Kota atau Beos, dengan membayar seharga Rp.10.000,-. Adapun kendaraan umum yang lewat hanya ada pada pagi jam 07.00 – 08.00 atau sore hari jam 17.00 – 18.00.

Sepanjang jalan Pangeran Jayakarta, kita bisa melihat petunjuk arah makam kira-kira 100 meter sebelum makam, sebelumnya sama sekali tidak ada petunjuk. Dan kita pun hanya bisa menggunakan kendaraan sampai di muka gang sempit yang menuju ke makam.

Jalan menuju makam merupakan jalan sempit yang penuh dengan pemukiman padat penduduk. Tidak terbayangkan bahwa didalam pemukiman tersebut terdapat makam Kapitan Tionghoa pertama, yang sudah membangun kota Batavia pada masa pemerintahan Belanda.

Ketika saya sampai di lokasi makam, saya sangat terkejut dengan kondisinya. Sebagian makam terendam air berwarna hijau. Dikatakan Ibu Karsinah, salah seorang penjaga makam, makam terendam dikarenakan rembesan air setiap musim hujan. Biasanya penyedotan dilakukan selama tiga kali saja dalam seminggu untuk membuang airnya, dengan membayar sebayar Rp 10.000,- perkegiatan penyedotan. Walaupun makam sudah dipagari oleh Yayasan yang mengurus makam, dan terlihat bersih karena dibersihkan seminggu tiga kali oleh Ibu Karsinah, namun makam kelihatan kumuh karena pagar di sekeliling makam digunakan untuk mejemur pakaian para penduduk.

Adapun makam yang saya lihat merupakan makam yang sudah di buat bagus setelah melalui beberapa tahapan sejak 2000 sampai dengan 2008. Diperlukan delapan tahun untuk membuat makam menjadi layak dilihat dan dikunjungi seperti sekarang ini. Sebelumnya, makam tidak terurus, yang terlihat dari foto dokumentasi tentang makam dari berbagai sumber, dikarenakan posisi makam berada di dapur sebuah rumah penduduk, yaitu yang dimiliki orangtua ibu Karsinah.

Ibu Karsinah sempat menceritakan kepada saya, dulu sewaktu kecil, dia biasa duduk-duduk di bangku dapur yang dibangun diatas makam. Sedangkan dibagian depan makam, yang dilapisi keramik, biasa di lakukan kegiatan cuci mencuci. Pada waktu makam akan di konservasi, keramik sudah banyak yang hilang.

Saat ini, makam memang sudah terlihat bagus, dan berada dalam perawatan dan perlindungan yayasan dan keturunan Souw Beng Kong, namun yang perlu diperhatikan yaitu perawatan setelah konservasi, agar bangunan cagar budaya ini tetap seperti aslinya, dan kita tidak kehilangan lagi situs bersejarah bangsa. (wr)

Souw Beng Kong, Sang Kapitan Pertama Batavia

Pada 30 Mei 1619, saat VOC berhasil mengalahkan pangeran Jayakarta dan merebut kota bandarnya, Gubernur Jendral saat itu, Jan Pieterzoon Coen menginginkan pembangunan fisik dan menggulirkan roda perekonomian dan kehidupan kota dilakukan. Untuk membangun kota bandar, sang Gubernur Jendral pun melirik pada seorang saudagar lada Tionghoa, yang telah sukses di kawasan Banten.

Sang pengusaha tersebut bernama Souw Beng Kong atau So Bing Kong atau Su Ming Kang, telah menjadi saudagar muda yang kaya raya dan tokoh Tionghoa terkemuka, serta memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Banten saat itu. Souw Beng Kong terpilih untuk membantu J.P Coen membangun kota dikarenakan sifatnya yang cerdas, ulet, rajin dan bervisi luas.

Pada perkembangan kota bandar, masyarakat Tionghoa berperan dalam memajukan kehidupan kota terutama dalam bidang ekonomi, sehingga kota tersebut menjadi salah satu kota bandar yang terkenal di dunia. J.P.Coen pun melihat perlunya seorang pemimpin yang mengatur kehidupan masyarakat Tionghoa terutama berkenaan dengan kematian, pernikahan dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Karena itu setelah Souw Beng Kong membantu J.P Coen mengembangkan kota bandar, yang dikenal sebagai Batavia, sang saudagar kemudian diangkat menjadi Kapitan Tionghoa pertama.

Souw Beng Kong kemudian menjadi sahabat J.P.Coen dan sering berperan sebagai diplomat dalam hubungan Belanda dengan Banten-Inggris. Dia juga yang mengembangkan perdagangan antara Taiwan dengan Batavia pada masa akhir Dinasti Ming. Souw Beng Kong menjadi Kapitan Tionghoa pada periode 1619 – 1640. Sang Kapitan sekaligus saudagar yang memiliki dua orang isteri perempuan Bali ini, wafat pada 1644, dikarenakan sakit dan dimakamkan di kebunnya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s