Bubungan Tinggi Banjar, Sebuah Nilai Akulturasi Islam dan Melayu

Rumah Banjar yang bergaya bubungan tinggi termasuk jenis rumah yang besar dan unik, baik bentuk maupun ukirannya. Bubungan tinggi, itulah yang menjadi ciri khas tipologi arsitekturnya. Gaya bangunannya panjang dan tinggi, yang paling tinggi adalah pada sebelah kiri dan kanan bangunan yang disebut anjung, diantara dua ajungan itu terdapat palidangan, yakni bagian tengah bangunan yang di atasnya terdapat plafon dan menutup tehnik bangunan sangga ribut. Bubungan tinggi yang bertulang sangga ribut itu dihubungkan dengan atap yang memanjang ke muka rumah disebut atap sindang langit, sedang atap yang memanjang ke belakang rumah dinamakan atap hambin awan.

Bubungan tinggi ini bila dilihat dari samping, mulai dari tingkat bawah sampai ke puncak bubungan, terlihat seperti sebuah payung yang terkembang, ditatah dengan hiasan sindat pada kandang rasi, dan swastika pada ujung plafon, sampaian ampat di atas tawing halat, ditambah kaligrafi yang diukir di atas pintu tawing halat, menunjukan adanya suasana kedamaian. Dengan demikian rumah Banjar bubungan tinggi nampak jelas menggambarkan adanya perpaduan berbagai budaya yang berkembang di Kalimantan Selatan.

Rumah bubungan tinggi dibangun bertiang tinggi, termasuk jenis bangunan rumah panggung, jarak antara lantai bangunan dengan tanah sering melebihi dari dua meter, sehingga kolong rumah itu tinggi dan dapat difungsikan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Tiang yang tinggi berfungsi untuk mencegah air masuk kedalam rumah ketika air pasang, karena rumah panggung semacam ini lebih sering dibangun didaerah pesisir sungai atau rawa.

Rumah tradisional Banjar ini sedikitnya terdiri dari delapan bagian pokok dan masing – masing bagian ada fungsinya, saling terkait satu bagian dengan bagian lainnya. Bagian-bagian tersebut yaitu :

  1. Tangga

Tangga rumah ada dua, yang terletak di muka dan di belakang. Buatan bangunan rumah adat bubungan tinggi selalu memakai ukuran dengan jumlah ganjil seperti 1,3,5 dsb dan menurut ukuran tradisional yang dipergunakan adalah depa yakni sekitar 1,70 meter.

  1. Pelataran

Bagian pertama dari Pelataran yaitu serambi, suatu tempat terbuka tanpa dinding di depan rumah. Ada yang dibangun satu tantang (jenjang) dan ada yang dua atau tiga tantang. Bagian ini terdiri atas 3 susun yakni pelataran di bawah disebut Serambi Muka, tempat mencuci kaki sebelum naik ke bagian selanjutnya. Yang kedua disebut Surambi Sambutan, karena untuk menyambut tamu terhormat, tuan rumah menunggu di surambi ini. Tempat ini juga dipergunakan untuk menjemur padi, bantal, tilam dan lain-lainnya. Pelataran ketiga, paling atas dibagian atasnya diberi atap Sindang Langit yakni semacam emper, dan sekelilinginya diberi pagar resi. Pelataran paling atas ini disebut Lapangan Pamendangan. Lapangan Pamedangan berfungsi untuk tempat duduk-duduk dan beristirahat diwaktu sore mauoun malam hari. Sebuah tangga berukir indah dengan sungkulnya yaitu hiasan tonggak yang menonjol pada tangga, menghubungkan pelataran kedua atau surambi sambutan dengan Lapangan Pamedangan.

  1. Panampik Kecil

Memiliki permukaan lantai lebih tinggi daripada pelataran. Panampik kecil terdiri dari tiga tantang panurunan. Panurunan pertama berkotak segi empat bertangga satantang, disebut pecira. Panurunannnya kedua juga disebut tapi tidak ada anak tangga, watunnya disebut watun langkahan. Pada panurunan ketiga terdapat watun jajakan. Baik watun jajakan maupun watun langkahan keduanya pada konstruksi tengah-tengah dua tihang yang berdiri sejajar. Keempat tiang ini disebut tihang sandaran, yang konstruksinya didirikan di atas watun. Watun-watun serupa, tempat tihang berdiri disebut watun barasuk. Ruang penampik kecil atau ruang penurunan merupakan ruang yang dekat dengan pintu berfungsi untuk menyimpan alat-alat pertanian, pertukangan dan alat menangkap ikan.

  1. Panampik Tengah

Kedudukan lantai lebih tinggi sedikit dari panampik kecil. Watun jajakan awal dari panampik tengah.

  1. Panampik Besar

Kadang-kadang disebut ambin sayup atau paluaran. Permukaan lantai ada yang menggunakan konstruksi lebih tinggi dari lantai panampik tengah dan ada pula yang sejajar. Namun konstruksinya sama dengan adanya watun ajajkan. Ruangan ini dibatasi dua buah tihang sandarang pada watun jajakan dengan tawing halat.

Tawing halat adalah dinding ruangan dari kayu yang dapat dibuka untuk memisahkan antara ruangan panampik kecil, tengah dan besar dengan bagian dalam atau palidangan. Didirikan di atas tataban kancang, diantara pintu masuk ke ruang Palidangan. Pada saat tertentu misalnya ada perkawinan dan pertunjukan wayang, dinding atau tawing halat ini dibuka sehingga mendapat ruangan yang besar Penampik besar atau Paluaran berfungsi untuk tempat menerima dan tempat duduk tamu yang dihormati. Dan juga untuk menyelenggarakan selamatan dan upacara memberi makan TahunBaru.

  1. Palidangan

Disebut juga Panampik Panangah atau ambin sayup. Didalam palidangan, terdapat tihang pitugur, tiang utama yang mendukung konstruksi bubungan tinggi. Banyaknya delapan buah dalam ukuran yang besar dan terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.

Di ruangan yang paling luas ini kanan dan kirinya terdapat bilik yang disebut anjung kiri dan anjung kanan. Anjung yang berfungsi sebagai tempat tidur masing-masing dibagi dua ruangan yakni anjung paledangan untuk tempat tidur dan anjung jurai untuk tempat makan. Pembagian ini tidak memakai dinding malainkan dengan ampaian atau peti-peti pakaian yang diletakkan berjejer. Yang tidur dianjung ini hanya orang tua dan anak gadis, dan pada salah anjung terdapat tempat khusus untuk persalinan dan tempat memandikan mayat. Paledangan atau ambin dalam atau panampik panengah ini berfungsi untuk menempatkan tamu wanita atau keluarga laki-laki terdekat. Selain itu ruangan ini berfungsi pula untuk melaksanakan upacara adat seperti perkawinan, atau perayaan dengan pertunjukan wayang dan lain-lain. Untuk ke dapur orang menunggui tangga satu sampai tiga tantang disebut tangga dalam. Padangan terdiri dari pantaraan, palidangan dapur dan dapur.

  1. Panampik Bawah

Ruangan selanjutnya adalah Panampik bawah atau Padu, dan terdapat ruangan yang disebut Pantaran, Paledangan dapur dan dapur. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat mengasuh anak, tempat makan, tempat bahan makanan, bahkan tempat tidur dan lain-lain. Palendangan depan atau ruangan padu juga dipergunakan untuk tidur malam hari oleh para pemuda dan anak-anak. Kalau keluarga yang tua makan bersama di Paledangan Dapur, maka pengantin baru yang tidur di anjung kanan, makan dengan suaminya di anjung jurai kanan.

8. Pintu

Pintu (lawang) pada rumah Bubungan Tinggi berbentuk simetris, terletak pada tengah dinding. Secara keseluruhan rumah ini memiliki lima pintu. Yang pertama, pintu masuk dan keluar, yang menghubungkan pelataran dan panampik kecil yang disebut Lawang Hadapan. Sedangkan pintu satunya merupakan pintu pada ruang Padapuran. Kemudian dibagian dalam rumah masih ada pintu di Tawing Halat, yang menghubungkan panampik besar dengan palidangan. Sebuah lagi yang menghubungkan palidangan dengan panampik dalam. Bentuk pintu berkonstruksi berdaun lebar dengan ukuran tinggi antara 2-2,85 m, lebar 1-1,50 m. Untuk pintu depan ditambah lapisan pintu angin, yang disebut Lawang Kelangkan atau Dinding Ari.

Rumah adat Bubungan tinggi sebagai bangunan induk, berbentuk tinggi dan memanjang ke depan, dengan lantai berjenjang. Rumah di atas tiang ini dari depan ke belakang semakin meninggi dan pada pertengahan bangunan yakni di bawah bubungan ke belakang lantainya menurun lagi.

Seluruh bangunan bahannya dari kayu, mulai dari tangga, dinding, lantai hingga atap. Biasanya kayu yang dipakai adalah kayu galam atau kayu ulin (kayu besi). Sedangkan atap rumah terbuat dari sirap dan daun rumbia.

Rumah adat Bubungan tinggi ini penuh dengan ukiran misalnya pada pintu, dinding bagian atas, tiang, pertemuan tiang dengan balok, tangga dan atap. Ukiran tersebut kebanyakan bermotif bunga-bungaan seperti bunga melati, mawar, teratai, kaca piring, dan lain-lain. Juga ukiran bermotifkan buah-buahan, misalnya belimbing, buah manggis, buah nenas, cengkeh dan sebagainya. Untuk motif daun-daunan adalah daun ceremai, juga ukiran pucung rebung, gigi haruan dan lain-lain.

Ukiran ini melambangkan kesuburan dan kedamaian. Di puncak atap terdapat hiasan berupa dua atau ekor burung enggang dan dikedua ujung bubungan diberi hiasan ukiran paruh dengan dua sayap kanan kiri, disebut jamang. Di bagian bawah terdapat penampik pada bagian bawah lantai anjung dan pada penampik lapangan pamedangan diukir dengan ukiran naga. Ukiran burung enggang di atas atap melambangan dunia atas sedangkan ukiran naga atau kepala naga melambangkan dunia bawah. Dengan masuknya Islam juga mempengaruhi motif ukiran pada rumah adat misalnya motif huruf Arab atau kaligrafi.

Jendela pada rumah ini disebut Lelongkan atau Lalongkang atau Lulungkang dengan konstruksi berdaun kembar yang daunnya dibuka kea rah luar. Konstruksi jendela menggunakan dua buah daun jendela. Luas jendela berkisar antara ukuran 1-2,25 m dan lebar sekitar 1,50 . Jendela dilengkapi jari-jari jarak yang disebut anak lalongkang, baik dari kayu ulin maupun besi yang berfungsi sebagai pagar pengaman, biasanya bundar tanpa hiasan, berjumlah 5, 7, 9, 11, 13, 15 dan 17 buah.

Rumah Bubungan Tinggi dengan pembagian ruang dan ornamen yang khas merupakan perpaduan berbagai unsur kebudayaan yang menjadi satu dalam kebudayaan Banjar. Bagi suku Banjar rumah merupakan pusat kehidupan dimana keluarga dapat saling berinteraksi secara terus menerus dan terdapat hubungan saling timbal balik yang dapat menguatkan sistem kekerabatan suku Banjar. Sebelum mendirikan rumah, terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan seperti rumah tidak boleh dibangun didekat pekuburan, dekat pohon besar, dipersimpangan atau di pinggir sungai dan danau yang besar sekali.

Kemudian tanah yang ideal untuk tempat membangun rumah yaitu tanah yang strategis dengan rumah menghadap matahari terbit. Arah timur merupakan idealnya membangun rumah. Tanah yang sudah dipilih sebelum pembangunan rumah biasanya disirami berkeliling dengan air Al-qur’an dari surat Yasin, agar bangunan yang dibuat baik buat penghuninya nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s