Persoalan Laut Indonesia

Indonesia, sebuah negara kepulauan yang dikelilingi laut-laut besar seperti Samudera Hindia atau Laut Jawa. Dengan sekitar 17.504 pulau, yang memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan luas laut hampir 5,8 juta km persegi, menjadikan Indonesia memiliki kekayaan laut yang melimpah. Tidak hanya berbagai jenis ikan, atau binatang laut, namun juga mutiara dan minyak. Laut Indonesia juga memiliki kekayaan berupa benda cagar budaya, berupa benda-benda yang berasal dari kapal karam diperairan Indonesia.

Kekayaan alam Indonesia berupa hasil rempah-rempah seperti cengkeh (Eugenia aromatica, kuntze), pala (Myristica fragnanas, Linn), atau cengkeh (Garyophyllon), serta hasil hutan seperti damar, kemenyan atau kapur barus, merupakan komoditi yang sudah diperdagangkan sejak abad ke-15. Komoditi ini merupakan tujuan utama banyaknya pelayaran kapal laut mengarungi perairan Indonesia.

Namun sekarang ini laut Indonesia semakin lama semakin memprihatinkan keadaannya. Berbagai kerusakan laut makin banyak ditemukan dan masih saja terjadi. Meskipun pemerintah dan berbagai pihak seperti LSM atau lainnya telah menyosialisasikan berkali-kali untuk tidak melakukan pengrusakan pada laut Indonesia.

Terumbu karang yang rusak di berbagai daerah akibat pengambilan ikan dengan menggunakan pukat harimau atau bom, pembukaan tambak udang dan lainnya masih menjadi persoalan serius dalam melestarikan kekayaan laut Indonesia.

Tidak hanya itu, pencemaran laut pun juga masih terjadi. Limbah industri dan rumahtangga, khususnya limbah pabrik (tailing), rata-rata bermuara ke laut. Kekayaan laut Indonesia juga mengalami kerusakan dari luar laut. Seperti kerusakan hutan bakau, telah berperan dalam menghancurkan habitat liar para penghuni laut dan merusakkan perlindungan alami suatu pulau terhadap angin yang kuat, gelombang yang dibangkitkan oleh angin (siklon atau badai), dan juga gelombang tsunami. Salah satu bencana banjir yang sering melanda Jakarta contohnya juga salah satunya disebabkan karena hilangnya hutan bakau di Teluk Jakarta.

Persoalan lain yang menyangkut dengan kekayaan laut, kekayaan cagar budaya laut Indonesia juga mengalami pengambilan secara ilegal, yang dijual di luar Indonesia dengan harga mencengangkan. Kegiatan manusia di daratan juga berperan dalam kerusakan kekayaan laut. Kegiatan kita, yang menambah gas karbondioksida atau metan ke udara, ternyata mampu membuat suhu bumi semakin memanas. Adanya peningkatan suhu bumi membuat air laut semakin naik, karena mencairnya lapisan es di kutub, yang akan mengaliri laut-laut di dunia termasuk laut Indonesia. Menurut satelit Poisedon milik USA, pada tahun 2007, permukaan air laut didunia meningkat sebanyak kurang lebih 3,1 mm/pertahun.

Adanya suhu bumi yang terus meningkat, juga berdampak pada kehidupan di bawah laut seperti terumbu karang. Terumbu karang yang stress dikarenakan temperatur air laut meningkat, sinar ultar violet dan perubahan lingkungan lainnya, menjadi semakin memutih. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya makanan di terumbu karang tersebut untuk penghuni laut atau hilangnya tempat tinggal penghuni laut (25% habitat laut tinggal di terumbu karang). Apabila terumbu karang terus memutih maka terumbu karang ini makin lama akan mati. Dan akibatnya ikan-ikan menjadi homeless, atau memilih akan melakukan migrasi besar-besaran daerah lain, terutama bagi ikan yang tidak bisa beradaptasi di wilayah yang suhunya makin menghangat.

Coba bayangkan saja apabila ikan-ikan yang migrasi tersebut merupakan ikan yang menjadi bahan pangan utama dan ekspor utama bagi negara kita, maka nelayan akan kehilangan mata pencahariannya. Begitu juga orang lain yang terkait dengan perdagangan dan konsumen ikan, seperti nelayan. Dan kita juga akan ikut kehilangan, dengan tidak dapat lagi mengkonsumsi ikan segar, salah satu sumber pangan sehat bagi kit

Air laut yang terus meningkat juga akan membuat garis pantai pulau akan semakin mundur,dan akibatnya, banjir akan sering terjadi, terutama pada daerah-daerah yang berada di dataran rendah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya dsb. Kebutuhan air bersih menjadi sulit dipenuhi karena masuknya air laut kedalam air tanah menjadi semakin sering. Air tanah pun menjadi asin dan harus diproses terlebih dahulu apabila akan digunakan untuk mandi, mencuci atau masak. Dan tentunya dengan banyaknya daerah yang tergenang air laut dan bahkan benar-benar terendam.

Karena itu, mulai sekarang, melakukan sesuatu atau kegiatan harus dipikirkan dampaknya pada kehidupan di luar kehidupan kita. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengurangi terjadinya kerusakan kekayaan laut. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari, nenek moyang kita seorang pelaut handal, yang menjaga kelestarian kekayaan lautnya, namun kalau kita tidak bisa menjaga warisan nenek moyang yaitu kekayaan laut kita, maka artinya kita sudah mengingkari atau menjadi anak durhaka terhadap orangtua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s