Wisata Religi ke Batam

Maret lalu, saya berkesempatan melakukan wisata religi ke Batam. Batam? Ya, Batam, sebuah pulau kecil yang sering disebut dengan Singapura-nya Indonesia. Sebetulnya saya tidak bermaksud melakukan wisata religi, tapi mengunjungi teman saya yang kebetulan adalah pengurus organisasi pemuda Tionghoa di sana. Maka jadilah saya ditemani Hendra dan Lili, dua teman saya warga Batam, mengunjungi bangunan-bangunan yang penting bagi Tionghoa Batam seperti vihara atau klenteng.

Selama dua hari disana, saya mengunjungi beberapa vihara dan klenteng untuk bersembahyang. Tempat pertama yang saya kunjungi yaitu Vihara Cipta Dharma, yang terletak di dalam kota Batam. Vihara Cipta Dharma, merupakan salah satu tempat ibadat masyarakat Tionghoa sejak dulu. Awalnya Vihara ini hanyalah klenteng kecil bernama Zhen Wu Miao, namun seiring perkembangan umat yang makin banyak, maka klenteng ini pun diperbesar dan namanya menjadi Vihara Cipta Darma. Pada altar utama terdapat Dewa Xian Tian Shang Ti, yang merupakan dewa nomer satu dalam kepercayaan kuno masyarakat Tionghoa di Batam.

Batam-2

Di Vihara ini, saya berkesempatan melihat proses pelipatan uang kertas untuk keperluan sembahyang. Uang kertas tersebut datang berpak-pak dengan diikat tali raffia, kemudian dilipat menjadi segitiga dan digulung bersama hio (dupa), sehingga memudahkan umat untuk bersembahyang. Kami pun bersembahyang sebentar di klenteng tersebut sebagai tanda hormat dan bakti kami kepada leluhur, serta memohon berkat agar perjalanan saya selama di Batam selalu dilindungi dan dimudahkan. Menurut kepercayaan leluhur, ketika kami melakukan perjalanan ke satu tempat, kami harus mengunjungi terlebih dahulu klenteng yang ada di daerah tersebut untuk melaporkan kedatangan kami, dan itulah yang saya lakukan.

Setelah mengunjungi Vihara Cipta Dharma, saya diajak Hendra dan Lili mengunjungi salah satu  vihara kecil yang tertua di daerah Sei Pancur, agak di luar kota Batam, bernama Cetya Santi Sakti. Cetya atau vihara kecil ini memiliki patung dewa dari kayu yang dibuat oleh masyarakat Tionghoa yang pertama datang ke Batam dari daratan Tiongkok. Di Cetya ini, saya hanya melakukan pai-pai (hormat kepada altar dengan cara mengepalkan kedua tangan), sedangkan Hendra bersembahyang pada leluhurnya, karena disinilah awalnya masyarakat Tionghoa bermukim di Batam.

Sementara itu, Lili pun melakukan ciamsi (ramalan dengan mengocok bambu) di bantu oleh pengurus Cetya yang sudah berusia lanjut. Dan tidak berapa lama kemudian, terdapat warga yang datang meminta doa dituliskan dalam selembar kertas kuning untuk dibawa anaknya yang berencana bekerja di negeri sebrang. Kami pun berkesempatan melihat ritual pemberian doa yang sangat jarang kami lihat. Pertama pengurus Cetya menanyakan kepada warga siapa nama anaknya yang akan dibekali kertas doa, kemudian melakukan kocok bambu sambil mengucapkan doa. Setelah itu, baru dituliskan sebuah kalimat dalam bahasa mandarin di sehelai kertas kuning sambil mengucapkan doa-doa lirih dalam bahasa mandarin. Setelah menulis, pengurus Cetya pun mencap kertas kuning tersebut baru kemudian dilipat dan diberikan kepada si warga. Pesan si pengurus Cetya, kertas doa tersebut harus di bawa kemanapun si anak pergi.

Usai mengunjungi Cetya Santi Sakti, kami pun menuju Vihara Virya Dharma atau disebut juga dengan nama Klenteng Catur Dharma. Klenteng ini juga merupakan salah satu klenteng tertua di Batam. Disini, kami hanya sebentar singgah karena hari sudah mulai sore, kami hanya melakukan pai-pai dan melihat-lihat kondisi dalam Klenteng, lalu kami pun memutuskan untuk mengakhiri wisata religi di hari ini.

Hari kedua wisata religi, saya dan Lili, tanpa Hendra, sepakat untuk mengunjungi tiga tempat di kota Batam dan di luar kota yaitu daerah Pantai Tanjung Pinggir. Klenteng yang pertama kami kunjungi yaitu klenteng Kwan Im, yang berlokasi di Koh Tiat Meng Resort atau sering disingkat KTM Resort, Pantai Tanjung Pinggir, Sekupang.

Klenteng ini memang termasuk bangunan baru di Batam, namun sudah menjadi salan satu objek wisata religi yang wajib dikunjungi apabila kita datang ke Batam. Klenteng ini istimewa bukan karena ornamen atau ukuran klentengnya yang membuat saya begitu berkesan, tapi adanya patung Dewi Kwan Im yang sangat besar ukurannya, yang membuat saya pun terpana. Saya tidak pernah melihat patung sebesar itu di Jakarta, tanah kelahiran saya. Patung raksasa Dewi Kwan Im ini ditempatkan menghadap ke laut, seolah-olah siap memberikan berkatnya pada semua umat manusia, tidak hanya penduduk Batam.

Batam-5

Dari kisah tentang patung yang terpahat di salah satu dinding dekat patung, patung tersebut didirikan oleh Koh Tiat Meng, seorang warganegara Singapore kelahiran 1935, yang mencintai kawasan Tanjung Pinggir. Selain mendirikan patung, Koh Tiat Meng juga mendirikan resort dekat pantai, sehingga resort ini dikenal dengan nama Koh Tiat Meng Rseort atau KTM. Berukuran panjang 22,37 m, dengan bahan beton dan rangka besi, patung ini memiliki bobot 112 ton, dan selesai pada Maret 2004, serta di resmikan pada November 2004. Bentuk Dewi Kwan Im dengan satu tangan di dada melambangkan rasa kasih yang tulus Tuhan kepada manusia.

Adapun keberadaan patung Dewi Kwan Im atau umat Buddha mengenalnya sebagai  Bodhisatva Avalokitesvara, dimaksudkan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan tempat manusia menyatakan perasaan bersyukur atas semua yang sudah diperolehnya.  Meskipun awalnya lokasi patung ini diperuntukkan untuk tempat beribadah bagi umat Buddha, namun dikarenakan ukurannya yang besar dan dekat dengan salah satu pantai yang indah di Batam, maka lokasi ini pun kini menjadi salah satu tujuan wisata dari orang-orang Indonesia ataupun mancanegara dari berbagai umat agama.

Hal lain yang mengesankan dari tempat ini, kami bisa menikmati hidangan non daging yang disediakan umat pada saat-saat tertentu misalnya pada saat perayaan kelahiran Dewi Kwan Im. Selain menikmati hidangan non daging, kami juga bisa bermain di Pantai Tanjung Pinggir setelah puas beribadah di klenteng Kwan Im.

Dari Pantai Tanjung Pinggir kami pun kembali ke kota Batam, tepatnya ke daerah Lubuk Baja, dan mengunjungi Tua Pek Kong Bio. Bio atau klenteng ini disebut juga dengan Vihara Budhi Bhakti didirikan pada 19 September 1986, termasuk dalam klenteng yang baru. Meskipun baru, klenteng ini merupakan salah satu klenteng utama bagi masyarakat Tionghoa Batam untuk dikunjungi terutama pada perayaan Imlek atau Ceng Beng.

Batam-7

Hal menarik dari klenteng ini, ketika kita masuk, puluhan bahkan mungkin ratusan lampion menghiasi langit-langitnya dan juga masih terlihat lilin-lilin besar berwarna merah bergambarkan naga sisa dari perayaan Imlek kemarin. Kemudian pada dinding-dinding diluar sebelah kiri, terdapat lukisan dari cerita Tiongkok seperti Kera Sakti dll, tapi dibubuhkan nama. Ternyata lukisan tersebut merupakan sumbangan dari berbagai pihak, seperti perusahaan atau perorangan, yang berhak menuliskan nama mereka di lukisan tersebut. Di klenteng ini kami juga melihat patung Dewi Kwan Im dan patung dewa lainnya dalam ukuran yang besar.

Hari kedua wisata religi kami akhiri dengan mengunjungi Darmawisata Maitreya Center, sebuah bangunan vihara yang baru didirikan untuk penganut Buddha Maitreya. Di tempat yang luas ini, kita bisa melihat berbagai patung Buddha Maitreya dalam berbentuk karakter di setiap ruangnya, termasuk di halaman dan tamannya. Ada yang menjadi biksu, petani bahkan penyanyi. Sungguh tidak membosankan melihat patung-patung tersebut, karena Buddha Maitreya dikenal sebagai karakter yang lucu, selalu tersenyum, serta  dekat dengan anak-anak.

Disini juga dapat dilihat patung Buddha yang berukuran besar pada setiap altarnya, yang ditempatkan pada ruangan yang besar sehingga memuat jumlah umat yang banyak. Hal yang sesuai dengan jumlah umat yang berkunjung, karena seringkali umat yang berkunjung berada dalam rombongan yang besar.

Di tempat ini, kami juga melihat replika jubah biksu, yang dipajang dalam box kaca dan toko souvenir yang menjual benda-benda yang bersifat keagamaan dan menampilkan tokoh Buddha Maitreya dalam berbagai wujud sovenir.

Puas berwisata religi, hari kami pun diakhiri dengan makan malam di daerah sekitar Klenteng Tua Pek Kong yang terkenal dengan masakan Chinese nya. Kami memilih makan sup ikan yang sangat terkenal di situ dengan minum teh O dan teh obeng. Teh o yaitu teh manis hangat sedangkan teh obeng yaitu es teh manis. Nikmatnya makan sup ikan dengan ikan yang segar dari lautan sekitar pulau Batam. Rasanya tidak ingin meninggalkan Batam, tapi besok pagi saya sudah harus kembali ke Jakarta. Tapi saya berjanji, ini bukan pertama kali dan terakhir saya ke Batam, akan ada kunjungan saya lagi ke sana walaupun entah kapan. (Diyah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s