Kunjungan ke Klenteng Banten Lama

Pada sekitar 1652, rombongan puteri Tiongkok, Ong Tien datang ke nusantara, tujuannya menuju ke Cirebon, bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Namun dikarenakan kehabisan perbekalan, rombongan tersebut pun singgah di pesisir Banten utara, yang pada saat itu merupakan salah satu pelabuhan teramai di tanah Jawa. Para pengikut sang puteri yang percaya pada ajaran Confusius pun kemudian mendirikan bangunan klenteng di Desa Dermayon, sebelah selatan Mesjid Agung Banten, Serang. Dan baru sekitar 1774 M, klenteng dipindahkan ke Kampung Pamarican. Demikian sekelumit cerita mengenai Klenteng Banten bernama Vihara Avalokitesvara yang dituturkan oleh salah satu pengurus klenteng pada Minggu, 10 November lalu.

Di Kampung Pamarican yang hanya berjarak 500 m dari sebelah barat Masjid Agung Banten inilah, klenteng pun mengalami perkembangan. Klenteng bernama asli Ban Tek Ie (berarti “Tempat melakukan segala kebajikan”) ini dikenal juga dengan nama klenteng Kwan Im Hud Cow, dikarenakan dewa utamanya yaitu Kwan Im. Nama lain dari klenteng ini, setelah diberlakukan kebijakan penggantian nama Cina menjadi Indonesia selama orde baru yaitu Vihara Avalokitesvara.

Bangunan klenteng yang juga berbatasan dengan Benteng Speelwijk, benteng Belanda yang juga penanda berakhirnya era kejayaan Kesultanan Banten ini, pernah diperluas pada 1870. Dan mengalami pemugaran pertama kali pada 1932.  Pada bagian belakang klenteng terdapat bangunan yang disebut Dharmasalla, tempat belajar agama Buddha dan kebaktian. Ketika gunung Krakatau meletus, klenteng ini merupakan satu-satunya bangunan yang selamat dan menjadi tempat pengungsian banyak warga Banten Lama.

Hal paling menarik pada bangunan ini justru pada patung Kwan Im nya yang bermahkota dan memakai kerudung menutupi wajahnya, dengan pakaian warna merah keemasan, merupakan patung yang sama sejak klenteng ini berdiri.

Kunjungan ke klenteng Banten ini merupakan salah satu tempat bersejarah yang dikunjungi pada acara Jelajah Banten Lama, yang diadakan Komunitas Jelajah Budaya, Jakarta. Komunitas Jelajah Budaya atau biasa disebut KJB ini digawangi oleh Kartum Setiawan, mengadakan secara rutin perjalanan ke tempat-tempat bersejarah di Indonesia, salah satunya ke situs Banten Lama. Selain mengunjungi situs Banten Lama, KJB juga mengajak peserta mengunjungi situs Banten Lama lainnya seperti Benteng Speelwijk, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Mesjid Agung Banten dan Meriam Ki Amuk.

Tidak hanya mengunjungi tempat bersejarah, pada setiap perjalanannya, KJB mengajak para peserta menikmati kuliner khas daerah yang dikunjungi, seperti saat ke situs Banten Lama ini, kami diajak untuk makan siang dengan menu ikan bandeng khas Banten. Jadi, mau menambah pengetahuan tentang sejarah nusantara dan menikmati kuliner khas nusantara, ikut saja perjalanan yang diadakan KJB 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s