Ruang Kas Cina di Museum Bank Mandiri Kota Jakarta

Kita saat ini mengetahui bahwa banyak orang Tionghoa yang bergelut dalam dunia ekonomi dan bisnis terutama perbankan. Hampir sebagian besar bank di Indonesia di miliki oleh para pengusaha Tionghoa. Sesungguhnya kiprah orang Tionghoa dalam perekonomian terutama perbankan bukanlah hal yang baru. Menurut sejarah, orang-orang Tionghoa sudah berada dalam bisnis ini sejak jaman kolonial bahkan sebelum jaman kolonial dengan cara yang sederhana.

Peran orang Tionghoa sebagai pedagang perantara hasil bumi dari orang lokal dan orang Belanda ataupun sebaliknya sudah dilakukan sejak masa pemerintahan kolonial Beland. Adanya alat perhitungan khas Tionghoa seperti sempoa, telah menunjukkan penghitungan bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Tionghoa.  Kemudian adanya pencatatan dalam buku-buku untuk transaksi perdagangan dan hasil keuntungan serta jumlah simpanan yang dimiliki keluarga Tionghoa, menunjukkan bahwa ‘ide’ untuk administrasi keuangan secara sederhana sudah dilakukan.

Pada masa lalu juga dikenal istilah ‘mindring’ yaitu para pedagang Tionghoa yang menjual barang-barangnya secara kredit dan transaksi keuangannya telah dicatat di sebuah buku kecil, yang sering disebut dengan “buku kredit”.

Administrasi keuangan masyarakat Tionghoa pun semakin berkembang pada jaman-jaman berikutnya, tidak sebatas hanya dalam keluarga inti tapi juga menjangkau keluarga se-marga atau se-organisasi. Hal tersebut dapat dilihat ketika kita mengunjungi Museum Bank Mandiri di kawasan kota tua Jakarta.

Museum yang menempati area 22,176 m2 di gedung bekas Nederlandsche Handel Maatschappij NV (1929), Museum Bank Mandiri atau sering disingkat MBM, merupakan museum perbankanan pertama di Indonesia. Gedung bergaya art deco klasik ini menyuguhkan pemandangan dari berbagai koleksi buku besar, mesin hitung, uang koin dan kertas kuno, surat-surat berharga sampai dengan peti penyimpanan uang dan brankas jaman dulu.

Sedangkan tempat yang berhubungan dengan masyarakat Tionghoa yaitu ruang Kas Cina. Ruangan ini merupakan ruangan khusus untuk masyarakat Tionghoa pada jaman kolonial dalam bertransaksi. Alasan adanya ruang Kas Cina ini, dikarenakan pada masa lalu banyak para saudagar Cina yang sudah melakukan perdagangan dengan pihak Belanda, dan menggunakan perhitungan yang khusus, sehingga membutuhkan adanya bagian tersendiri di dalam bank. Adapun alasan orang Belanda berdagang dengan orang-orang Cina masa lalu dikarenakan mereka merupakan pedagang yang jujur dan mau bekerja keras. Saat ini ruangan tersebut masih dipertahankan bentuknya, dan diisi dengan replika orang-orang Tionghoa yang bertugas melayani nasabah, lengkap dengan pakaian tradisional Tionghoa.

Masyarakat yang ingin mengunjungi MBM ini dapat datang setiap Selasa-Minggu pukul 09.00 – 16.00, sedangkan pada hari Senin, museum ini tutup. Selain itu, pada acara Jelajah Malam Museum, yang biasanya diadakan Komunitas Jelajah Budaya (JKB), rekonstruksi kas Cina pada masa itu akan ditampilkan, lengkap dengan kostum khas nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s