Sang Buddha Tertawa, Maitreya

Pada perjalananku ke Batam Maret lalu, aku mengunjungi Vihara Maitreya dengan patung Buddha yang lucu dalam berbagai pose berukuran besar-besar. Patung Buddha sejenis itu ternyata dapat ditemukan di klenteng-klenteng atau vihara Buddha lainnya di Indonesia, dalam ukuran yang lebih kecil tentunya. Seperti di klenteng Sin Tek Bio, Pasar Baru, patung Buddha Maitreya sambil tersenyum digambarkan tengah duduk bersila.

Patung Buddha Maitreya ini dipercaya lahir di India, dan memiliki darah raja. Dalam bentuk asli, Buddha Maitreya digambarkan dalam wujud yang sangat dihormati, baru setelah kepindahannya ke Cina, bentuknya menjadi periang, bersahabat dan lucu seperti ini. Di Cina, Buddha ini dipercaya lahir di provinsi Zhejiang, dan sering disebut Pu Tai He Sang (Bhiksu Berkantong Kain), dikarenakan sering berkelana membawa kantong kain pad apermulaan abad ke-10.

Maitreya berdasarkan dalam agama Buddha merupakan salah satu dari tiga eksistensi Buddha, yang mengacu pada  Buddha di masa lalu, Shakyamuni atau Buddha masa kini dan Maitreya atau Buddha masa depan. Sebagian pemeluk Buddha percaya bahwa dengan penyembahan terhadap Maitreya akan membuat manusia mencapai pintu masuk tanah yang suci dan mendapati pemenuhan dalam hatinya.

Digambarkan memiliki perut buncit yang besar sekali dan senyumnya yang lebar serta beberapa dengan bentuk tertawa terpingkal-pingkal ini, sering juga disebut dengan Sang Buddha Tertawa.  Sang Buddha tertawa dikenal juga dengan Buddha bahagia, pengasih dan bersahabat.

Ada begitu banyak kisah yang beredar di kalangan masyarakat tentang keberadaannya. Dikatakan senyum sang Buddha akan kelihatan berbeda pada setiap orang tergantung orang yang melihatnya. Persembahan pada sang Buddha ini juga di yakini dapat memberikan banyak kebahagiaan, rejeki dan anak. Dalam beberapa kisah, sang Buddha juga suka bermain dengan anak-anak, makanya dipercaya dapat mengabulkan doa para pasangan yang belum mempunyai keturunan.

Kisah pasangan yang belum punya anak setelah bertahun-tahun menikah, memutuskan untuk menaruh patung Buddha Maitreya di rumahnya, dan menyembahnya. Tidak lama ternyata pasangan ini memiliki anak. Karena itu patung Buddha Maitreya sering digambarkan dikelilingi oleh sejumlah anak kecil.

(Bahan tulisan : Legend of Laughing Buddha, Jeffrey Seow, Wikipedia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s