Membangkitkan Kebanggaan Olahraga Nasional melalui Museum

Pada 18 Mei 2013 yang lalu ketika warga dunia merayakan Hari Museum, saya mengunjungi sebuah booth yang penuh dengan memorabilia olahraga seperti raket susi susanti dan replika Thomas dan Uber cup. Ternyata booth tersebut merupakan booth Museum Olahraga Nasional. Ketertarikan saya pada dunia olahraga terutama sepakbola dan bulutangkis, membuat saya ingin mengunjungi museum tersebut suatu hari. Namun, kunjungan itu tidak pernah terlaksana sampai pada Desember 2013, tepatnya tanggal 17 Desember ketika saya mendapat undangan menghadiri workshop di museum yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu.

Museum Olahraga Nasional diresmikan pada 20 April 1989 di wilayah seluas 1,5 ha, dengan luas bangunan 3.000 m2. Bangunan berbentuk bola berwarna merah putih diatapnya ini memiliki tinggi 17 meter. Angka 17 didapat dari tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Sedangkan bentuk bola merupakan sumbangan pemikiran dari Sultan Hamengkubuwono ke-IX, dikarenakan olahraga bola merupakan olahraga yang terkenal di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Dan bola berwarna merah putih terinspirasi dari warna bendera negara Indonesia.

Didalam museum, terdapat berbagai koleksi barang atlet Indonesia yang sudah menorehkan prestasi di dunia. Seperti koleksi Wiem Gomes (Tinju), Susi Susanti dan Alan Budikusuma, pasangan Bulutangkis Indonesia yang meraih medali di Olimpiade Barcelona 1994, Yayuk Basuki, petenis peringkat dunia, Nanda Telanambua (Angkat Berat), Zuus Undap dan Murisnawati (Anggar), Naniek Yulianti, ratu renang Indonesia pada masa lalu dan masih banyak lagi.

Museum Olahraga-3

Museum ini sendiri memiliki visi melestarikan puncak karya dan prestasi olahraga sebagai kajian sejarah olahraga dan lingkungannya, dan menyediakan fasilitas kepada masyarakat menuju terwujudnya masyarakat gemar belajar dan berkehidupan yang sehat fisik, mental dan spiritual.

Sedangkan misi museum ini yaitu menginformasikan kepada masyarakat, pemuda dan pelajar tentang perjuangan para atlit dan tokoh olahraga Nasional, dalam memperjuangkan nama Indonesia di tingkat internasional dengan menunjang tinggi sportivitas, dan membina generasi muda dalam berprestasi di bidang olahraga baik Nasional maupun internasional.

Untuk mendukung tercapainya visi dan misinya, museum menyediakan sarana penunjang olahraga bagi masyarakat berupa lapangan tenis, sarana fitness, aerobic dan bilyard.  Namun ternyata sejak museum ini didirikan, museum dinyatakan tidak pernah mendapat perhatian dalam hal renovasi maupun revitalisasi secara fisik sejak diresmikan (Firmansyah Dlis, 2013).

Secara resmi pengelolaan Museum Olahraga Nasional berada di bawah Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemnpora), di bantu dengan KONI dan KOI, yang memberikan sumbangan pradesign Museum Olahraga Modern. Museum ini kemudian diharuskan tampil seksi, menarik, interaktif dan atraktif.

Ketika pada masa menteri Andi Malarangeng, museum sudah direncanakan di revitalisasi, namun karena adanya kasus yang menimpa sang menteri, usaha revitalisasi pun terhenti. Sampai saat ini museum belum selesai direvitalisasi dan belum dibuka untuk umum. Padahal museum ini merupakan museum olahraga pertama di Asia Tenggara.

Selain itu masalah profesionalisme sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi dan informasi, display koleksi yang out of date dan kurang menarik, kurangnya data yang terkait koleksi dan rendahnya kreativitas program serta aktivitas museum yang menarik minat masyarakat berkunjung ke museum, menjadi masalah revitalisasi museum.

Dari data angka kunjungan ke museum, terjadi penurunan pengunjung ke museum, yang pada 2007 terjadi 4.204.321 kunjungan, menurun menjadi 4.170.020 kunjungan. Hasil wawancara dengan pengunjung, 90% mengatakan tidak tahu adanya museum Olahraga Nasional. Dan 100% dari pengunjung yang datang ke TMII, tidak ada yang mengunjungi museum Olahraga Nasional ini. Pengunjung juga mengemukakan bahwa sosialisasi dan promosi museum ini kurang (Firmansyah Dlis, 2013). Ini artinya adanya event Museum Day yang diadakan tiap tahun untuk mempromosikan semua museum kurang memberikan informasi lengkap mengenai Museum Olahraga Nasional kepada masyarakat.

Saya jadi ingat ketika mengunjungi booth Museum Olahraga Nasional tahun lalu, koleksi yang ditampilkan terlihat apa adanya dan pengunjung tidak diberikan keterangan yang jelas serta lengkap tentang koleksi dan museum oleh penjaga booth. Saya ingat hanya diberikan brosur tentang museum yang tampilannya tidak terlalu bagus sehingga orang malas membacanya.

Museum menurut Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 1995 adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan,  dan pemanfaatan benda bukti materiil hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Fungsi museum sebagai tempat yang menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa mendorong museum harus mampu dan professional, dalam mengkomunikasikan dan memberikan informasi pada pengunjung melalui koleksi yang ditampilkan. Jika koleksi yang ditampilkan apa adanya, tidak terawat, maka akan memberi kesan pada pengunjung bahwa museum sebagai tempat benda-benda tua yang tidak terpakai.

Museum sebagai tempat pembelajaran, pusat pengetahuan dan informasi tentang budaya bangsa kemudian tidak muncul. Bentuk informasi seperti brosur, buku dan lain-lain yang tidak menarik justru menguatkan kesan museum sebagai tempat yang kuno, usang dan out of date.

Museum Olahraga-1

Sementara itu, di negara-negara tetangga seperti Singapore atau Thailand, museum merupakan salah satu tempat kebanggaan bangsa dan menjadi salah satu objek wisata yang harus dikunjungi untuk mengetahui sejarah dan hasil budaya bangsa yang dikunjungi wisatawan.

Pada dasarnya bangsa Indonesia merupakan bangsa yang menghormati leluhur dan peninggalannya, dengan adanya tradisi berkunjung ke makam atau pulang ke rumah orangtua atau kampung halaman ketika hari raya (Agus Aris Munandar, 2013).

Namun, nilai atau sikap hormat ini tidak diperlihatkan ketika menyangkut tentang museum. Kenapa? Ada beberapa alasan sebetulnya kenapa masyarakat, terutama generasi muda sekarang tidak suka berkunjung ke museum. Menurut saya yang pertama, bangunan museum yang kelihatan apa adanya dan tidak terawat. Kedua, display koleksi yang out of date misalnya barang rusak atau rongsokan tanpa caption. Ketiga, sikap petugas museum yang tidak informatif dan membantu pengunjung. Keempat, sarana dan prasarana yang tidak mendukung pengunjung untuk dapat bersenang-senang di museum. Kelima, kurangnya pemanfaatan teknologi dan informasi untuk membantu pengunjung dan memberikan informasi. Keenam, kurangnya sosialisasi program museum kepada masyarakat umum. Untuk yang keenam ini, biasanya yang berkunjung ke museum adalah para pelajar yang mendapatkan tugas dari sekolahnya untuk menulis tentang museum tertentu atau sejarah tertentu, yang informasinya seharusnya didapat dari museum yang dituju.

Seperti Museum Olahraga Nasional, apabila memang museum ini ingin mencapai visi dan misinya, sebaiknya memerhatikan enam alasan kenapa museum kurang menjadi pilihan sebagai tempat pembelajaran dan wisata. Karena apabila keenam alasan tersebut dipenuhi, saya kira kebanggaan bangsa terhadap olahraga Nasional akan terus tumbuh. Hanya di Museum Olahraga Nasional lah kita tahu mengenai prestasi atlet Indonesia di kancah dunia yang membanggakan. Dan kisah itu akan menjadi suatu oase di dunia olahraga Indonesia yang sedang terpuruk.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements