Berdoa di Mesjid Kuno Batavia

Di siang yang cukup terik, aku bersama dua orang teman menyusuri jalan beraspal didekat Pasar Ikan untuk menuju ke Mesjid Luar Batang, sebuah Mesjid di kawasan kota tua Jakarta yang juga termasuk dalam Bangunan Cagar Budaya (BCB). Menyusuri jalan tergenang air selokan, pedagang menjajakan barang-barang kelontong dan lain-lain serta menyebrangi sungai sempit dengan jembatan kayu yang sempit, kami bertiga menuju ke Mesjid Luar Batang.

Berlokasi di tengah pemukiman yang padat, Mesjid ini tampak tidak ada papan yang menunjukkan sebagai BCB. Ternyata, papan BCB itu kami lihat tergeletak di tanah, dekat pintu gerbang Mesjid. Pada masa pemerintahan kolonial, mesjid ini berlokasi di sebelah utara tembok kota lama Batavia, didaerah yang pada pertengahan abad ke-17 diuruk dan baru boleh dihuni oleh orang Jawa dari Cirebon, pada 1730.

Mesjid, berasal dari kata “sajada” (Bahasa Arab), yang berarti tempat sujud atau tempat orang bersembahyang menurut aturan Islam. Pada perkembangannya di Indonesia, mesjid tidak hanya menjadi tempat sujud atau bersembahyang tapi juga kegiatan perayaan hari keagamaan, kegiatan sosial, pendidikan agama, pengajian dan kegiatan lainnya.

Mesjid kuno di Indonesia, seperti Mesjid Luar Batang, pada umumnya mempunyai ciri berdenah segiempat, atap bertingkat, ditunjang 4 tiang, mempunyai mihrab dan mimbar. Pada beberapa mesjid juga ada tambahan seperti serambi, tempat imam, tempat wudhu, tempat sholat khusus perempuan dan menara. Hal ini juga yang ditemukan di Mesjid Luar Batang. Perempuan yang akan bersembahyang di mesjid disediakan tempat berwudhu dan shalat terpisah dari jemaah laki-laki.

Mesjid juga biasanya dikelilingi oleh tembok seperti Mesjid Luar Batang. Beberapa mesjid kuno di Indonesia bahkan memiliki tempat sholat khusus kesultanan atau kerajaan. Sedangkan ornamen mesjid, dikarenakan adanya pelarangan simbol mahluk hidup dalam ornamen bangunan ibadat, maka ornamen yang ditampilkan biasanya berbentuk bunga seperti bunga cempaka atau buah.

Sejarah Mesjid Luar Batang sudah terentang lama sejak didirikan sebelum tahun 1736.  Mesjid yang dirikan oleh Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus, yang juga dimakamkan di pekarangan mesjid. Namun karena ada perluasan mesjid, makam keramat itupun menjadi didalam mesjid. Sampai sekarang makam tersebut masih sering dikunjungi berbagai kalangan dari seluruh negeri karena kebaikannya dan selalu membela orang yang tertindas sepanjang hidupnya, selain mengajarkan Islam di Indonesia.

Mengenai sejarah Mesjid Luar Batang, masihlah banyak perdebatan sebetulnya. Ada yang mengatakan bahwa makam di Mesjid Luar Batang yang sudah terkenal dari dahulu kala, bukanlan makam pendiri mesjid, tapi makam Abdul Kadir yang terletak dekat di makam Habib Sayid Husein atau Habib Husein. Apapun sejarahnya, makam ini sudah terkenal sebagai makam keramat dan banyak orang yang mengunjunginya, dengan berdoa didekat makam percaya bahwa doanya akan dikabulkan. Peziarah ternyata tidak hanya berdoa tapi juga sering membawakan barang seperti kambing hitam yang tanduknya dihiasi tutupan emas. Awal mulanya kepercayaan ini dikarenakan ada orang bernama Moh.Hamid Lebe dan Abdul Malik yang doanya dikabulkan dan memperindah makam sebagai nazar. Saat ini terdapat dua makam di Mesjid Luar Batang, yaitu makam Habib Husein yang cungkupnya ditutup warna hijau dan makamAbdul Kadir yang ditutup kain putih.

Nama Luar Batang sendiri juga masih hal yang belum pasti. Kisah yang paling banyak beredar dan dipercaya yaitu nama “luar batang” dari kisah pemakaman Sayid Husein yang sebelum meninggal meminta dimakamkan di pekarangan mesjid yang dibangunnya sendiri. Tapi entah kenapa, jenazah Sayid Husein malah di makamkan di tempat lain. Ternyata ketika dibuka keranda nya, jenazah Sayid Husein sudah tidak ada dan berada di mesjid. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, sehingga mesjid tempat dimakamkannya Sayid Husein dinamakan Mesjid Luar Batang. Benar tidaknya kisah ini, tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti.

Mesjid Luar Batang kemudian mengalami perluasan dan pemugaran beberapa kali, terutama karena kelembaban tanah, dimana lokasi Mesjid berdekatan dengan laut. Karena itu juga, lantai mesjid pun ditinggikan. Selain itu karena lokasinya yang berdekatan dengan laut, maka air mesjid pun sedikit payau.

(Bahan Bacaan : Mesjid-mesjid Tua di Jakarta, Adolf Heuken SJ, Jakarta 2003)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s