Kenangan perjalanan ke desa Ot Danum

Kami datang pada malam hari yang gelap sehingga tidak melihat keindahan desa tersebut. Desa yang terletak jauh di pedalaman Kalimantan ini dihuni oleh Dayak Ot Danum. Listrik belum masuk ke desa ini, sehingga ketika malam kami tidur, kami hanya ditemani oleh cahaya lampu teplok atau senter yang di bawa beberapa kawan. Kami bermalam di salah satu rumah betang. Tidur bersama-sama di ruang depan, dan masing-masing kelompok memilih sudutnya masing-masing. Kami kelompok perempuan memilih tidur bersama di salah satu sudut. Sedangkan para kelompok laki-laki berada di sudut satunya.

Yang menjadi masalah ketika kami ingin buang air pada malam hari. Bukan gelap yang menjadi masalah, karena kami memiliki senter, tapi karena kami harus ke sungai untuk menuntaskan keinginan buang air kami, dan saat itu air sungai tengah surut, sehingga kami harus jalan merambat ke bawah. Masalah lain ketika kami harus mandi. Seharusnya kami mandi di sungai, tapi karena saya alergi dengan air sungai, jadi saya hanya bisa mandi dengan air yang sungai sudah ditampung di ember dan diberikan cairan antiseptik. Sedangkan dua teman perempuan saya memutuskan tidak mandi karena tidak tega melihat air sungai yang cukup keruh waktu itu. Mereka lebih memilih memakai bedak wangi banyak-banyak daripada mandi di sungai.

Pagi hari setelah ritual mandi di pinggir sungai, kami pun berjalan-jalan di desa tersebut. Kami baru menyadari keindahan desa ini. Di kelilingi bukit yang penuh dengan pohon kehijauan, udara segar merasuk dalam tubuh kami. Begitu menyenangkan masih bisa menghirup udara segara setelah sekian lama hidup di perkotaan yang penuh dengan polusi. Rumah-rumah betang berbentuk panggung dengan atap dari sirap, dan tiang-tiangnya dari kayu berkualitas seperti ulin, membuat kami takjub, karena mampu bertahan dalam gerusan jaman. Menurut salah seorang kawan yang juga penduduk desa tersebut, rumah tempat tinggalnya, yang juga merupakan rumah betang sudah berusia puluhan tahun dan sudah didiami keluargnya secara turun temurun.

Keramahan penduduk begitu kami rasakan. Saat berjalan, hampir semua penduduk menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya, sekedar berbincang-bincang dan menikmati teh hangat dan kue-kue yang dibuat sendiri, sehingga kami tidak perlu sarapan lagi. Keramahan yang tulus, yang kami tidak bisa jumpai di kota.

Dalam perjalanan menyusuri desa, kami pun menjumpai para perempuan yang sedang menumbuk padi, sedikit mengobrol tentang mereka dengan bantuan penterjemah. Mereka rupanya habis panen padi. Dan padi itu adalah hasil dari ladang mereka sendiri yang nantinya akan disimpan dalam lumbung. Tidak hanya padi, mereka juga menanam tanaman lain di ladangnya. Selain berladang, masyarakat desa juga sering mengambil buah, sayur atau berburu binatang di hutan dekat desa mereka.

Hutan yang terlihat masih kehijauan dari kejauhan dan menurut salah seorang tetua desa tidak semua binatang dapat diburu di hutan tersebut. Ada hewan-hewan tertentu yang tidak boleh di buru misalnya burung tingang, yang dipercaya sebagai burung keramat dalam cerita masyarakat Ot Danum. Dan kepercayaan ini ternyata telah melindungi habitat burung Tingang secara otomatis.

Selain berburu hewan di hutan biasanya babi hutan atau rusa, masyarakat juga terbiasa memancing atau menjala ikan di sungai. Kami bertemu dengan salah seorang penduduk yang sedang membuat jukung. Jukung tersebut akan digunakan untuk memancing atau menjala ikan di sungai pada musim panen ikan nanti.

Menurut salah seorang tetua, dahulu masih bisa ditemukan ikan arwana di sungai mereka, namun ketika para orang kota melihat ikan arwana merupakan ikan yang memiliki komoditi yang bagus untuk diperdagangkan, perburuan arwana secara besar-besaran pun dilakukan. Dan masyarakat pun tidak bisa berbuat apa-apa karena perburuan itu dilakukan oleh pihak yang berkuasa saat itu.

Sekarang sesekali masyarakat pernah melihat ikan arwana berenang di sungai tersebut, namun ketika di cari tidak pernah di temukan. Menurut saya hal yang bagus tidak pernah ada yang menemukan ikan arwana tersebut, karena kalau ditemukan si ikan sudah pasti nasibnya akan berakhir di akuarium atau kolam seseorang.

Hal yang juga menyenangkan bagi kami yaitu saat makan. Kami duduk di lantai kayu dan makan bersama-sama. Tidak ada perbedaan yang tua atau muda, laki-laki atau perempuan, semua makan dalam lingkaran yang sama, lauk yang sama dan dengan porsi yang diinginkan masing-masing orang. Lauk kami siang itu adalah juhu ikan. Meskipun sederhana, kami sangat menikmati makan siang, karena merasakan kebersamaan dalam makan siang tersebut.

Sayangnya kami hanya sehari di tempat tersebut, karena kami harus melanjutkan perjalanan ke desa yang lebih jauh. Namun, kami sangat terkesan dengan kehidupan mereka yang menjaga tradisi mereka dengan memanfaatkan hasil hutan dan sungai secara bijaksana yang tidak lekang oleh waktu.

Ketika mereka bercerita soal keberadaan mereka, hutan, sungai dan ladang mereka, mereka kelihatan begitu bangga akan apa yang telah mereka miliki saat ini dan apa yang menjadi tradisi bagi mereka, tanpa menyombongkan dirinya. Bagi mereka, tradisi itu akan tetap di teruskan meskipun jaman telah berganti. Dan bagi saya, mereka adalah masyarakat Ot Danum yang sederhana dan rendah hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s