Perayaan Sin Cia

Xinnian kuaile! (Selamat Tahun Baru – dalam bahasa Mandarin) sering kita dengar pada bulan-bulan Januari atau Februari sejak tahun 2000an. Tepatnya ketika pelarangan terhadap budaya Tionghoa dicabut. Ya, di 31 Januari 2014, kita akan merayakan Tahun Baru Imlek atau sering disebut Sin Cia.

Perayaan ini yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Ciagwee berdasarkan kalender Cina. Sistem penanggalan yang dihitung berdasarkan peredaran bulan dan diresmikan pemakaiannnya oleh kaisar pertama Cina, Qin Shi Huang Di.

Biasanya pada hari itu para pedagang etnik Tionghoa akan menutup tokonya, bahkan sama sekali tidak berbisnis. Anak-anak kemudian memakai baju baru dan menerima angpao (uang dalam amplop berwarna merah). Pada malam imlek, biasanya rumah-rumah dibersihkan dan diberi hiasan berupa ucapan-ucapan yang memberikan keselamatan dan kebahagiaan, lalu disiapkan makanan berbagai macam seperti daging babi, ikan dan ayam, kue-kue dan bermacam buah-buahan.

Pada masyarakat Tionghoa yang masih merawat “Meja Abu”, sembahyang Imlek dilakukan didepan “Meja Abu”, pada pagi hari pas Imlek. Setelah itu mereka akan saling mengucapkan selamat tahun baru dan menikmati makanan bersama. Lalu setelahnya berkunjung ke tempat sanak saudara dan tetangga untuk Pai-cia (mengucapkan selamat tahun baru dengan cara Pai yaitu mengepalkan kedua tangan, tangan kiri menutupi tangan kanan).

Pada malam imlek, biasanya sembahyang dilakukan juga di klenteng selain di depan meja abu. Di beberapa tempat kadang-kadang juga disertai dengan memasang petasan atau kembang api. Imlek sering juga disebut sebagai Sin Cia/Sintjia, Ce It, tahun baru Cina atau lebaran Cina.

Namun kebiasaan-kebiasaan yang kita kenal dalam merayakan imlek tersebut, ternyata tidak kita temukan pada etnis Tionghoa yang termasuk dalam golongan miskin. Etnis Tionghoa miskin berada di berbagai tempat di Indonesia. Mereka memiliki pekerjaan sebagai tukang cuci, buruh, petani, nelayan atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali.

Etnis Tionghoa miskin tersebut biasanya merayakan imlek secara sederhana dengan hanya bersembahyang di depan meja abu yang sederhana, hanya berisi potret yang sudah meninggal dengan satu jenis buah dan kue. Kue dan buah ini juga biasanya diberi oleh sanak keluarga yang mampu. Karena pada Imlek inilah merupakan kesempatan untuk saling berbagi dengan yang tidak mampu atau yang miskin Beberapa yang tidak memiliki meja abu, biasanya akan mengunjungi keluarga yang memiliki meja abu. Meskipun begitu imlek tidak terasa kurang maknanya bagi mereka.

Ketiadaan bagi mereka tidak mengurangi rasa khidmat mereka dalam bersembahyang imlek. Pada Imlek ini, saatnya bagi mereka untuk mensyukuri rezeki yang sudah Thien (Tuhan) berikan dan penghormatan pada arwah leluhur yang sudah menjaga keluarga mereka sepanjang tahun.

Kemudian pada Imleklah mereka dapat beristirahat sejenak dari kesibukan sehari-hari dan saling mempererat tali kekeluargaan. Materi bukanlah hal yang utama pada hari tersebut, karena dengan tidak melakukan pekerjaan atau tidak berdagang tentunya mereka akan kehilangan penghasilan hari tersebut, namun mereka percaya bahwa dengan menyempatkan diri mengucapkan syukur bersama pada hari tersebut maka penghasilan yang hilang akan datang lebih banyak pada keesokan harinya.

Dari kehidupan penduduk etnik Tionghoa di wilayah ini, kita dapat tahu bahwa kemiskinan juga terjadi pada penduduk Tionghoa. Selama ini pandangan umum, mengatakan bahwa etnik Tionghoa itu kaya. Dan hal itulah yang terus-menerus dikatakan oleh setiap orang ketika akan berhubungan dengan orang Tionghoa baik dalam kerja, bisnis ataupun pertemanan.

Padahal, etnik Tionghoa seperti etnik lainnya, ada yang miskin dan kaya, tergantung pada pekerjaan, tingkat pendidikan, dan banyak faktor lainnya, tapi yang terutama adalah berdasarkan masing-masing karakter orang tersebut, apakah mau mencari penghasilan untuk menjadi kaya atau tidak. Karenanya melihat seseorang dari keturunan atau tidaknya untuk membentuk pandangan mengenai kategori miskin dan kayanya seseorang pada saat ini sepertinya agak tidak relevan.

Pada imlek inilah saatnya kita mencoba memikirkan kembali apa yang sudah menjadi pandangan umum namun sudah tidak pada tempatnya lagi untuk berpikir seperti itu. OrangTionghoa merupakan kelompok etnik yang majemuk, tidak berada dalam satu kategori saja, misalnya kaya, pelit atau materialistis. Masih banyak orang  Tionghoa yang miskin seperti di Jakarta, Tangerang, Singkawang, Bangka dll, dan masih banyak pula yang dermawan, sering menyumbangkan keuntungan penghasilannya untuk orang yang tidak mampu.

Sekarang adalah masa untuk melihat keragaman sebagai bagian dari negara Indonesia, dan perjuangan untuk perlindungan yang baik terhadap hak-hak sebagai individu dan warganegara, harus terus diusahakan tanpa melihat etnik, suku, agama, ras, bahasa, orientasi seksual dan pandangan politiknya.

Sekali lagi Xinnian Kuaile, Selamat Sin Cia!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s