Ancaman terhadap Hutan Hujan Tropis Terluas di Jawa

Dinginnya pagi serasa menusuk tulang membuatku tidak ingin segera bangun. Aku malahan merapatkan jaketku dan selimutku untuk kembali tidur. Tapi biarpun sudah dipejamkan ternyata aku tidak tidur juga. Aku akhirnya memutuskan untuk bangun saja melihat-lihat kesekeliling rumah. Pagi itu, hari pertamaku aku menginap di rumah penduduk di kawasan Gunung Halimun. Hawa dingin masih terus menusuk membawaku ke dapur untuk mencari segelas teh yang bisa menghangatkan. Bi Entin, pemilik rumah tersenyum melihatku dan menyodorkan teh hangat yang baru di buatnya dari ceret diatas tungku kayu bakar.

Sambil menikmati teh dan sepotong singkong rebus dari kebun, Bi Entin bercerita tentang desanya di kawasan Gunung Halimun. Kawasan Gunung Halimun, atau sering disebut dengan kawasan ekosistem Gunung Halimun oleh para ahli kehutanan, memiliki luas kurang lebih 100,000 ha. Sedemikian luasnya sehingga menjadikan kawasan ini sebagai wilayah hutan tropis terluas di pulau Jawa Barat bahkan di Jawa.

Kawasan Gunung Halimun dulunya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang dimiliki Perum Perhutani. Sebetulnya berdasarkan wilayah administratif, kawasan ini termasuk dalam provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten, dengan nama resminya Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Ternyata, kawasan juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Bogor, Sukabumi dan Lebak, karena menjadi daerah resapan air untuk ketiga wilayah itu. Tidak hanya itu, keanekaragaman flora dan fauna yang kaya, menjadikan TNGHS sebagai daerah sasaran penelitian banyak peneliti dari seluruh dunia. Menurut situs TNGHS, diperkirakan terdapat lebih dari 1000 spesies flora, 204 spesies burung, 55 spesies mamalia besar, 40 spesies mamalia kecil, 16 spesies amphibi, 20 spesies reptil dan 77 spesies kupu-kupu.

Beberapa anggrek dan satwa langka bahkan hampir punah seperti burung elang Jawa (Spizaetus bartelsi), burung cica matahari (Crocias albonotatus), burung poksai kuda (Garrulax rufifrons), owa (Hylobates moloch), kancil (Tragulus javanicus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), macan tutul (Panthera pardus melas), dan anjing hutan (Cuon alpinus javanicus), tinggal di TNGHS ini. Burung elang Jawa sering di identikkan dengan lambang negara Indonesia (burung garuda).

Kepunahan satwa khas Indonesia sebagian besar dipicu oleh pembangunan yang terus menerus terjadi di Jawa Barat.  Alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pemukiman ataupun pertambangan memperparah kondisi lingkungan di kawasan Gunung Halimun. Pada tahun 2004, di temukan belasan lokasi penambangan emas tanpa ijin di kawasan ini. Balai Taman Nasional Gunung Halimun telah beberapa kali melakukan usaha penutupan penambangan emas tanpa ijin ini. Namun adanya krisis ekonomi mendorong penduduk yang berada di sekitar kawasan tersebut melakukan kembali penambangan (Berita Kompas, 13 Desember 2004).

Adanya usaha penambangan menyebabkan penurunan kualitas ekosistem di kawasan ini dan degradasi kawasan lebih dari 15%. Dari data Kementrian Kehutanan 2010, di daerah Jawa Barat, terdapat 2.785 ha yang menjadi daerah perambahan dan pemukiman liar di dalam hutan dan 2.3 ha daerah penebangan liar atau pencurian hasil hutan baik berupa kayu batangan maupun kayu bulat.

Selain penambangan, illegal logging dan perambahan hutan juga termasuk dalam faktor penyebab penurunan kualitas ekosistem dan degradasi kawasan. Padahal, jika daerah resapan air ini rusak, banjir akan sering melanda daerah di hulunya. Berdasarkan data statistik Lingkungan Hidup BPS 2012, pada 2011 terjadi banjir sebanyak 554. Dari 554 bencana banjir yang terjadi, telah melanda 14.732 desa di seluruh Indonesia, dan tentunya menimbulkan korban yang tidak sedikit.

Karena itu, hanya upaya kita sendiri lah yang bisa mencegah kerusakan hutan hujan tropis terluas di Jawa ini. Supaya kita bisa membanggakan pada dunia, bahwa Indonesia masih memiliki hutan yang kondisinya bagus dan membantu dalam penyerapan emisi karbon dunia. Saya pun menghirup nafas dalam-dalam, merasakan kesegaran dan bersihnya udara di sekitar saya berada. Udara yang bersih akan membuat paru-paru kita bersih dan meningkatkan kesehatan kita. Saya masih ingin hidup sehat dan lama, karena itu saya tetap akan mendukung pelestarian hutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s