Mengenal Komik “Put On”

Tokoh laki-laki lajang berbadan gemuk dan pendek pada tahun 1931, tepatnya 7 Februari, mulai menyapa para pembaca surat kabar “Sin Po” yang berbahasa Tionghoa. Tokoh yang dikenal dengan nama “Put On” atau “Si Gelisah” ini kemudian muncul teratur sampai dengan tahun 1958,  bersamaan dengan ditutupnya tempat si tokoh bernaung. Setelah itu “Put On” berada di majalah “Pantjawarna” dan “Warta Bhakti” sampai tahun 1965 bersamaan dengan pembredelan majalah akibat peristiwa 1965.

Di masa pemerintahan orde lama, “Put On” menjadi potret kehidupan masyarakat Tionghoa Betawi modern yang tinggal di Jakarta tengahan. Dengan menggunakan bahasa Melayu Tionghoa, kadang bahasa Belanda pasaran (peco) dan Hokkian, “Put On” menjadi tokoh komik strip Tionghoa populer di kalangan masyarakat Tionghoa pada era 1930-1960-an. Komik yang bersifat humor dan menghibur ini hadir setiap Kamis di harian “Sin Po.”

“Put On” merupakan hasil karya seorang pelukis komik yang juga bekerja sebagai staf redaksi surat kabar “Sin Po” bernama Kho Wan Gie. Pelukis komik kelahiran Indramayu, Agustus 1908 ini, pernah mengenyam pendidikan melukis di sebuah lembaga di Washington, Amerika Serikat. Kemudian bersama pelukis Siauw Tik Kwie (pelukis komik Sie Jin Koei), belajar melukis pada J Frank dan H.v.Velthuisen.

Awal karir Kho Wan Gie bermula dari majalah “Panorama” di tahun 1927, lalu pindah ke harian “Sin Po” yang kala itu beralamat di Asemka, sebagai pelukis. Pemimpin “Sin Po” waktu itu, Ang Jan Goan, yang juga merupakan tokoh Tionghoa pendukung kemerdekaan Indonesia, meminta Kho Wan Gie menggambar serial komik untuk “Sin Po.”

Pemakaian nama “Put On” sendiri baru dilakukan pada 17 Januari 1931. Kho Wan Gie sendiri juga dikenal sebagai seniman pendukung kemerdekaan Indonesia, dan berteman baik dengan W.R.Supratman yang juga bekerja di harian “Sin Po.”

Setelah pemberangusan “Pantjawarna” dan “Warta Bhakti” di 1965, Kho Wan Gie tetap berkarya dan melahirkan tokoh komik lain, “Si Pengky” untuk majalah Ria Film dan Varia Film.

Komik “Pu On” yang berhasil menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Tionghoa di Jakarta memiliki target pembaca semua usia dan disukai tidak hanya oleh masyarakat  Tionghoa tapi juga masyarakat dari etnik lain. Selain itu, komik ini juga sangat kontekstual pada peristiwa yang terjadi pada masa itu, misalnya Asian Games, PON, Pemilu dll. Beberapa istilah atau ungkapan yang dipakai dalam komik seperti pan (ungkapan untuk menegaskan sesuatu atau akhiran) atau tulungin (agar membantu) masih terdengar di kalangan masyarakat Betawi saat ini. Hal tersebut termasuk yang menjadikan Komik Put On menjadi salah satu komik pioneer dalam sejarah perkomikan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s