Hilangnya Bangunan Bersejarah di Kawasan Gambir

Di siang yang cukup terik, aku berjalan sendirian di trotoar depan stasiun Gambir Jakarta untuk melihat bangunan lama di kawasan itu. Kawasan Gambir dikenal sebagai salah satu kawasan pemukiman elit dengan rumah yang berukuran besar dan bagus dengan kebun-kebunnya pada masa pemerintahan Belanda. Karena makin ramai penduduknya, maka pemerintah kolonial Belanda pun membangun stasiun KA Weltrevreden atau dikenal dengan nama Stasiun Gambir sekarang ini.

Di wilayah Gambir ini dahulu terdapat Pasar Gambir, dimana pada masa itu terdapat perayaan untuk memperingati penobatan Ratu Belanda, Wilhelmina. Biasanya perayaan dipenuhi dengan berbagai tontonan dan rumah makan, dengan makanan khas yaitu kerak telor. Perayaan ini berakhir pada masa kependudukan Jepang (1942).

Di depan sebuah bangunan berwarna putih kekuning-kuningan yang terlihat megah, dengan atap dari sirap berbentuk bulat, aku pun berhenti. Aku membaca papan penunjuk nama yang dipasang di dekat pagarnya, bertuliskan “Gereja Protestan Immanuel.”

Gereja Protestan Immanuel atau sering disebut dengan Gereja Immanuel, merupakan salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB). Hal itu terlihat di papan keterangan mengenai larangan untuk melakukan hal-hal seperti mengambil dengan sengaja bagian dari bangunan dll.

Bangunan bergaya neo klasik yang dipengaruhi unsur Romawi ini didirikan pada 1834, pada masa pemerintahan raja Belanda dari dinasti Oranye, King Wilem I. Oleh karena itu gereja ini juga sering disebut dengan gereja Wilemskerk. Gereja ini pun diresmikan penggunaannya pada 24 Agustus 1839 untuk menghormati hari kelahiran Raja Wilem Van Oranya.

Saat ini, gereja Immanuel tengah dalam tahap restorasi, sehingga akan terlihat kayu-kayu di sekeliling bangunan. Proses restorasi sendiri masih terus berlangsung sampai sekarang. Karena gaya bangunan dan rekonstruksi yang khas, membuat proses restorasi tidak bisa dilakukan dengan cepat.

Aku pun melanjutkan langkah kakiku menyusuri trotoar. Persis di samping gereja Immanuel, terdapat bangunan milik Pertamina, salah satu bangunan lama yang sudah dicampur dengan bangunan gaya baru. Aku pun kembali menyusuri trotoar menuju ke suatu bangunan yang juga lama.

Bangunan lama bergaya Neo Klasik yang aku kunjungi itu didirikan pada tahun 1902-1903, dahulu dikenal dengan nama Carpentier Alting Stichting. Kemudian bangunan ini diambil alih oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayan dan dijadikan sebagai gedung Galeri Nasional pada tahun 1990-an. Dengan pintu masuk utama berbentuk portico dengan dua kolom Doric yang menjorok keluar, bangunan ini sekarang berfungsi sebagai tempat pameran karya seni rupa. Persis disebelah bangunan, terdapat bangunan sekolah Belanda yang dijadikan sebagai SMA 7 sebelum 1990-an. Sekarang bangunan ini termasuk dalam komplek Galeri Nasional, yang terdiri dari berbagai gedung untuk keperluan pameran, workshop, diskusi dll.

Setelah mengelilingi komplek Galeri Nasional, aku pun berjalan lagi mengikuti trotoar. Tepat di sebelah Galeri Nasional, terdapat gedung lama yaitu Gedung Timah, yang sekarang sudah mengalami perubahan fisiknya. Kemudian gedung Gajah Mada yang digunakan sebagai markas Angkatan Darat untuk Polisi Militer juga sudah berubah. Bangunan yang masih kelihatan bentuk lama nya yaitu kedutaan Vatikan.

Sedangkan bangunan yang memadukan antara bangunan lama bergaya campuran art nouveau dan art and craft, yaitu Gedung Nederlandsch Indie Gas Maatschappij (NIGM) atau gedung Pusat Listrik Negara (PLN). Gedung ini masih menyisakan bangunan lamanya di depan, lengkap dengan papan keterangan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) sedangkan dibelakangnya, bangunan bertingkat yang menjulang terlihat dari jalan.

Diantara deretan bangunan lama di Gambir, bangunan Kementrian Kelautan dan Perikanan lah yang merupakan bangunan modern, dengan adanya tingkat gedung yang entah berapa jumlahnya. Menjadikan salah satu bangunan tinggi di deretan tersebut, selain bangunan baru milik PLN.

Langit yang tadi kelihatan cerah, mendadak pun mendung, membuatku harus mengakhiri selusur Gambir untuk hari ini. Namun bukan berarti perjalananku untuk menyusuri bangunan lama di Gambir, berakhir. Karena akan ada hari lainnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s