Sehari di Bumi Angsa Duo

Matahari bersinar terik di bumi yang terkenal memiliki sungai terpanjang di Sumatera, Batanghari. Namun teriknya matahari tidak menyurutkan langkahku untuk menjelajahi tanah yang dikenal memiliki lambang Angsa Duo selama sehari.

Alkisah berdasarkan cerita rakyat, disebuah daerah di Sumatera, seorang Raja sedang berjalan-jalan mencari daerah baru untuk pertanian. Tiba-tiba dilihatnya sepasang angsa berenang di sekitar sungai Batanghari. Sepasang angsa tersebut kemudian berlabuh di sebuah daerah yang subur di pinggir sungai. Sang Raja pun menamai daerah tersebut dengan daerah Angsa Duo (Angsa Dua = sepasang angsa).

Daerah yang subur tersebut, terutama dengan hasil buah-buahannya seperti durian, duku atau rambutan, lambat laun semakin berkembang menjadi sebuah daerah perdagangan dan perkebunan sawit. Buah duku yang dikenal sebagai hasil utama dari daerah tersebut pun kemudian dikenal dengan nama daerah lain, yaitu duku Palembang.

Menjelajahi kota ini dalam sehari memang tidaklah cukup, tapi bagi yang belum pernah ke Jambi seperti saya, dapat menganggapnya sebagai awal perkenalan untuk datang kembali kesini suatu hari nanti.

Jambi, ibukota provinsi dengan nama yang sama, dulunya merupakan wilayah salah satu pusat kerajaan Melayu. Sayangnya tidak banyak peninggalan sejarah kerajaan ini yang dapat kita saksikan sekarang ini.

Salah satu lokasi yang terkenal dan dibangun diatas lahan bekas pusat kerajaan Melayu yaitu Masjid Agung. Masjid Agung ini dikenal juga dengan Masjid 1.000 tiang. Kenapa disebut 1.000 tiang? Karena tiangnya yang banyak, meskipun jumlahnya hanya mencapai 256 buah, tapi para wisatawan atau pun pelancong yang singgah di masjid menamakannya begitu.

Masjid ini baru didirikan tahun 1971, meskipun ide pembangunan sudah dibahas sejak 1960-an. Masjid bernama resmi Masjid Agung Al-Falah ini, berdiri diatas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m. Sebegitu luasnya masjid sehingga masjid ini mampu menampung 10 ribu jamaah.

Tiang-tiang masjid seperti tulang dapat dilihat jelas dari luar masjid dikarenakan tidak ada kaca pintu dan jendela masjid. Tidak adanya sekat antara ruang dalam dan ruang luar inipun menjadikan masjid ini tidak memerlukan pendingin untuk mendinginkan ruangan. Karena angin yang berhembus dari luar dan tingginya langit-langit mesjid, dengan jejeran lubang angin di bagian atas menjadikan ruang menjadi sejuk. Sementara di bagian untuk sholat, tiang-tiang berwarna emas dan memiliki ornamen bunga khas Jambi, membuat masjid ini kelihatan megah.

Setelah puas menjelajahi masjid kebanggaan masyarakat Jambi, saya pun mengelilingi kota Jambi, terutama kota Pecinan. Di wilayah ini, hampir mirip dengan pecinan lainnya, rumah-rumah bergaya rumah toko mendominasi wilayah perdagangan ini. Tapi satu yang khas di wilayah ini, terdapat rumah-rumah tinggi yang rapat, ternyata digunakan sebagai rumah burung wallet. Rumah-rumah ini terletak di tengah kota. Hal lain yang terkenal dari pecinan ini, beberapa rumah masih bergaya lama, berupa rumah Melayu dengan kayu-kayunya dan ornamen yang khas. Di Pecinan ini juga kita dapat menemukan pasar keramik dengan motif yang kuno, seperti mangkuk bergambar ayam jago, dll.

Pasar Angsa Duo, sebagai pasar tradisional utama terlihat tetap ramai di siang itu. Meskipun keadaan pasar tidak terlalu terlihat dari luar karena sudah berada di bangunan pasar, tapi aku masih bisa melihat beberapa pedagang berjualan di luar pasar. Kelihatan hasil bumi seperti buah-buahan yang dijual, seperti nanas, pisang dll.

Dari pasar Angsa Duo, saya pun menuju sungai Batanghari untuk melihat pemandangan sungai. Saat saya kesana tengah dibangun jembatan penghubung antar sisi sungai yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Sayangnya jembatan tersebut kelihatan lambat pembangunannya. Biasanya pada malam hari di kawasan pinggir sungai Batanghari ini, akan banyak penjual makanan seperti jagung rebus atau jagung bakar dll, dan bangku-bangku untuk menikmati pemandangan malam hari di pinggir sungai. Kawasan ini dikenal dengan nama kawasan Ancol, dan diminati oleh anak-anak muda di Jambi ini.

Jalan-jalan hari ini pun diakhiri dengan sesi belanja Batik di kawasan Batik khas Jambi, yang bermotif pecah duren, angsa duo atau kapal nelayan. Hal yang lucu sekaligus mengenaskan bagi saya, karena banyaknya perkebunan kelapa sawit komersil, maka terdapat motif kelapa sawit. Padahal perkebunan kelapa sawit skala besar bukanlah hasil asli wilayah ini. Selain batik, saya juga membeli oleh-oleh khas Jambi, yaitu teh dari kebun teh di kawasan pegunungan Kerinci. Teh berlabel Aro ini bisa ditemukan di swalayan, pasar ataupun restoran khas Jambi.

Setelah puas berbelanja batik dan teh, saya pun makan mpek-mpek disebuah restoran mpek-mpek yang terkenal di kota ini, Warung H.Slamet. Disini kita bisa menikmati berbagai macam mpek-mpek, tekwan dan otak-otak. Mpek-mpek yang khas disini, disajikan dalam bentuk rebus dan goreng, dan ada mpek-mpek berbentuk kerang berisi serutan pepaya muda, yang tidak ditemukan di daerah lain. Selain itu ada saus rasanya manis alias tidak pedas sehingga aman dikonsumsi bagi penggemar mpek-mpek yang tidak suka rasa pedas seperti saya.

Usailah perjalanan saya di Jambi, salah satu kota yang tengah berkembang di Sumatera, yang memiliki banyak sejarah dan budaya Melayu serta Tionghoa, namun sayangnya belum banyak yang menggali potensi wisata sejarah dan budayanya. Sebuah peninggalan bersejarah di kota ini, meskipun jaraknya sekitar setengah jam dari kota Jambi, yaitu Candi Muaro Jambi, yang sayangnya tidak saya kunjungi, kabarnya juga tidak terawat dan penuh dengan ilalang. Begitu juga dengan nasib bangunan museum di kota ini.Ketika saya ingin mengunjunginya, teman saya melarangnya dengan mengatakan bahwa museumnya tidak bagus, koleksinya hanya begitu saja. Padahal jika bukan kita, generasi muda yang akan melestarikan peninggalan bersejarah dan budaya bangsa sendiri, lalu siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s