Catatan untuk Perayaan Imlek atau Sincia 2015

Di 19 Februari 2015 lalu, kita merayakan Tahun Baru Imlek atau sering disebut Sincia atau Lebaran Cina. Perayaan ini yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Ciagwee berdasarkan kalender Cina. Sistem penanggalan yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, yang diresmikan pemakaiannnya oleh kaisar pertama Cina, Qin Shi Huang Di.

Kebiasaan yang turun temurun pada hari tersebut yang terkenal yaitu memakai baju warna merah, biasanya juga baru dan anak-anak atau orang yang belum menikah menerima angpao (uang dalam amplop berwarna merah) dari orangtua dan sanak keluarga yang lebih tua.

Pada malam imlek, biasanya rumah-rumah dibersihkan, karena pada hari Imlek dilarang untuk membersihkan rumah, dan diberi hiasan berupa ucapan-ucapan yang memberikan keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan ucapan yang bagus-bagus, berisi harapan kedepan, lalu disiapkan makanan berbagai macam seperti pindang bandeng, sayur godog dan berbagai macam kue seperti kue mangkok, kue ku serta buah-buahan seperti semangka, pir, apel dll. Kue yang terkenal pada perayaan ini yang sering disebut sebagai kue wajib yaitu kue keranjang atau sering dikenal juga dengan kue cina atau dodol cina.

Di hari ke-enam sebelum imlek, masyarakat Tionghoa yang masih merawat “Meja Abu”, atau mempunyai meja abu leluhur, maka akan membersihkan abu hio (setanggi) di hiolo (tempat menancapkan hio)-nya. Pertama abu dibersihkan dengan cara diayak, lalu dimasukkan kembali ke hiolo nya. Dan diberi alas kertas berwarna merah. Setelah meja abu dibersihkan maka berarti tidak boleh lagi ada kegiatan membersihkan rumah.

Pada hari ke-enam sebelum Imlek itu juga, keluarga yang merawat meja abu akan sembahyang kon bu kong (sembahyang dewa dapur). Pada altar meja dapur yang diletakkan di dapur rumah, akan disajikan berbagai buah dan kue seperti pisang raja, jeruk bali, kue mangkok, wajik, gula batu, tang kue (buah kering) dan permen. Dipercaya sesajian yang memiliki rasa manis akan menyenangkan hati Dewa Dapur sehingga Dewa Dapur akan melaporkan kepada Dewa Langit perbuatan yang manis-manis atau yang baik dari pemilik rumah.

Sehari sebelum imlek, pada jam 12 siang, dilakukan sembahyang leluhur. Pada ritual sembahyang leluhur ini, akan disajikan makanan yang lebih lengkap, berupa apel, pir, pisang raja, jeruk bali, kue mangkok, kue wajik, kue pisang, gula batu, tang kue (buah kering), permen, nasi putih dan sam seng (babi, ayam dan bandeng). Kemudian di malam imlek, diadakan makan bersama dengan menu ikan bandeng, rebung, mie, rumput laut hitam kering, ayam, bebek, timun laut atau teripang. Semua makanan yang tersaji memiliki filsofinya masing-masing. Misalnya ayam, yang melambangkan para keturunan akan seperti ayam, yang giat bekerja, mengais rejeki sedikit demi sedikit atau mi yang melambangkan harapan untuk panjang umur.
Sembahyang Imlek kemudian akan dilakukan di rumah ibadat pada pukul 11 atau 12 malam, yaitu bersembahyang Tian Ti Kong. Setelah bersembahyang di rumah ibadat, biasanya ada anggota keluarga yang bersembahyang didepan “Meja Abu.”

Pada pagi hari pas Imlek, keluarga pun melakukan sembahyang kembali. Setelah itu mereka akan saling mengucapkan selamat tahun baru dan menikmati makanan bersama. Lalu setelahnya berkunjung ke tempat sanak saudara dan tetangga untuk Pai-cia (mengucapkan selamat tahun baru dengan cara Pai yaitu mengepalkan kedua tangan, tangan kiri menutupi tangan kanan). Sedangkan bagi yang tidak ada meja abu, akan bersembahyang di klenteng terdekat. Di beberapa tempat perayaan Imlek seringkali disertai dengan memasang petasan atau kembang api.

Namun ternyata tidak semua etnik Tionghoa dapat merayakan Imlek. Sejak Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional, Imlek juga sering disebut perayaan bagi orang Tionghoa, yang beragama Buddha, Tao dan Khonghucu. Sedangkan bagi orang Tionghoa beragama lain, dianggap tidak merayakan Imlek. Hal ini bertolak dari pemikiran bahwa pemerintah selalu memberikan satu hari libur setidaknya bagi umat beragama di Indonesia. Kita tahu bahwa di kalender libur nasional, umat Islam mendapat hari libur seperti hari libur ketika Lebaran Idul Fitri, Idul Adha atau Maulid Nabi, sedangkan umat Kristen mendapat libur pada hari raya Natal atau Kenaikan Isa Al Masih.

Pemikiran tersebut yang menjadikan bahwa Imlek identik dengan perayaan agama tertentu, agama samkau yaitu Buddha, Tao dan Khonghucu. Salah satu ormas agama tertentu bahkan jelas-jelas menyatakan bahwa mengucapkan selamat tahun baru Imlek haram hukumnya.

Meskipun dalam sejarahnya, Imlek merupakan perayaan musim semi di daratan Tiongkok, namun ketika di Indonesia, perayaan ini diterjemahkan kedalam perayaan agama samkau. Pandangan ini sama halnya dengan menganggap orang Tionghoa beragama samkau, sedangkan kalau tidak beragama sambau tidak dapat disebut orang Tionghoa atau orang Cina. Meskipun jelas-jelas memakai nama Tionghoa ataupun masih menjalankan tradisi Tionghoa yang lain, kecuali bersembahyang di klenteng ataupun meja abu.

Pandangan yang membedakan ini tentunya tidak keluar begitu saja, melainkan diturunkan dari generasi ke generasi, terutama dilegalkan dalam peraturan pemerintah dan kebijakannya. Pada masa orde baru, sejak peristiwa 1965, etnik Tionghoa dilarang sama sekali menunjukkan identitasnya sebagai etnik Tionghoa karena dianggap berpandangan komunis atau aliran kiri. Pelarangan ini termasuk pelarangan untuk menggunakan agama leluhur pada surat-surat resmi atau lainnya. Etnik Tionghoa juga kemudian diwajibkan memiliki surat bukti kewarganegaraan atau surat WNI, meskipun sudah lahir, tinggal dan hidup di Indonesia beratus-ratus tahun.

Pembedaan yang diwariskan dari jaman kolonial, dan diteruskan pada masa orde baru, sudah terlanjur melekat pada ingatan masyarakat Indonesia, menjadi satu stereotipe tersendiri dan dilabelkan hingga kini, sehingga kemudian memberlakukan peraturan yang diskriminatif pada etnik Tionghoa.

Meskipun pada masa reformasi, etnik Tionghoa mulai kembali diberikan hak dan kewajiban yang sama, namun sikap diskriminatif tidaklah mudah dihapuskan. Dan sikap diskriminatif ini juga tidak hanya muncul pada etnik lainnya tapi juga di kalangan etnik Tionghoa sendiri. Etnik Tionghoa merupakan kelompok etnik yang majemuk, sama seperti etnik lainnya, tidak berada dalam satu kategori saja, misalnya asosial, kaya, pelit atau materialistis.

Karena itu, untuk menghilangkan rasa saling prasangka yang diskriminatif, lebih baik kita melihat etnik pada budayanya, bukan pada sikap orang perorang. Karena budaya etnik-etnik yang berbeda di Indonesia lah yang memperkaya Indonesia, yang dapat menjadi warisan berharga dan menjadikan Indonesia berbeda di mata dunia. Bukan sikap diskriminatif terhadap etnik Tionghoa atau etnik Tionghoa kepada lainnya.

Sekarang, bukan lagi masa kolonial atau orde baru dimana begitu banyak pandangan yang sama terhadap etnik-etnik tertentu dibiarkan hidup dengan bebas, tapi adalah masa dimana melihat adanya keragaman pandangan dalam hubungan antar etnik. Masa dimana keragaman pandangan seharusnya dihargai dan didialogkan terus menerus sehingga terdapat perlindungan yang baik terhadap hak-hak sebagai individu dan warganegara.

Selamat Imlek, Selamat Sintjia!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s