Mengejar Matahari di Negeri Laskar Pelangi

Matahari menyinar terik siang itu, namun tidak mengurungkan niatku untuk menghirup udara pantai Sukamandi, sebuah pantai berpasir putih di Belitung Timur. Aku bermain-main dengan pasir putihnya, dan memunguti kerang-kerang kecil dan buah pohon pinus yang berukuran kecil untuk aku bawa menjadi hiasan di rumahku nanti. Di dekat pantai terdapat rawa bakau dimana kita melihat dan memancing kepiting. Pantai Sukamandi salah satu pantai berpasir halus dan putih di negeri yang sering disebut negeri Laskar Pelangi, setelah sebuah novel berjudul “Laskar Pelangi” karya anak negeri tersebut, Andrea Hirata sukses di pasaran, bahkan film nya pun menjadi box office.

Dinegeri yang juga dikenal sebagai pertambangan timah besar di Indonesia ini, saya sekarang mendaratkan diri. Menurut teman-teman petualang, apabila ingin melihat matahari terbit dan terbenam di pantai dengan jelas, datanglah ke Belitung. Maka, disinilah aku sekarang, mengejar matahari terbit dan terbenam.

Pulau Belitung atau Belitong dalam bahasa Melayu, sebelumnya merupakan satu provinsi dengan pulau Bangka, yang kemudian berdiri sendiri menjadi satu provinsi. Pulau Belitung pun terbagi dalam dua kabupaten yaitu Kabupaten Belitung Barat, dengan ibukota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibukota Manggar. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Belitung merupakan pulau penghasil timah. Kandungan timah yang ada di pulau ini diketahui sejak dijelaskan pada dokumen tahun 1820. Dan tahun 1860 Billiton Company (Maastschappij, disingkat Mij) menguasai penambangan timah di pulau kecil tersebut. Pada masa itu, produksi timah mengalami kemajuan luar biasa bahkan melebihi pulau Bangka, yang lebih dahulu dibuka sebagai pertambangan timah. Produksi timah Belitung, yang dulu dikenal dengan ‘Timah Selat’ banyak dilebur di Singapura, yang secara geografis letaknya tidak jauh.

Pengaruh budaya Eropa kemudian pun masuk ke Belitung, bercampur dengan budaya lokal yaitu Melayu dan Tionghoa (dari sub suku Hakka dan Hokkian). Jejak-jejak budaya tersebut, bisa dilihat pada pakaian penari pergaulan. Sedangkan pada seni bangunan, rumah panggung khas melayu memiliki jendela dan pintu yang besar dan tinggi, pengaruh dari seni bangunan Eropa. Alat musik khas Belitung juga tidak luput dari percampuran musik lokal dan Eropa, dengan adanya percampuran irama gambus dengan biola. Di salah satu desa di Belitung Timur, saat ini masih terdapat pembuat biola dan gambus secara tradisional.
Bicara tentang percampuran budaya, jejak-jejak sejarah masyarakat Eropa terutama Belanda datang ke Belitung masih bisa dilihat dengan adanya sisa-sisa peninggalan rumah dan pabrik. Rumah-rumah bergaya kolonial menjadi salah satu objek wisata berpotensi di Belitung sekarang ini. Meskipun kelihatan tidak terlalu terawat namun kompleks situs peninggalan orang Belanda ini masih terlihat menarik dari segi arsitekturnya. Mengingatkan pada masa keemasan timah, ketika masih banyak orang-orang Belanda tinggal di Belitung, seperti melihat pada masa lalu yang gemilang.

Hari ini, setelah saya berkeliling situs bersejarah, saya pun menikmati matahari terbenam di pantai Manggar. Pantai landai dan berpasir putih tanpa batu besar ini menjadikan saya bisa melihat dengan jelas matahari terbenam. Saya pun membiarkan diri sejenak menikmati ketenangan pantai dengan mendengarkan deru ombak yang menghantam pasir pantai. Serasa damai dan menyenangkan!

Dari ketenangan, saya pun bergerak ke kemeriahan di kota Manggar, yang dikenal dengan kota seribu kedai kopi. Disini, sepanjang jalan kota penuh dengan kedai kopi. Kopi, bukanlah hasil tanaman dari Belitung, melainkan di bawa dari Lampung, Medan dan daerah sekitarnya, namun di sinilah, kopi-kopi tersebut diracik dengan cara yang tidak biasa dan dihidangkan dalam gelas yang kecil, atau hanya setengah dari gelas besar di kedai-kedai kopi. Di kedai kopi ini lah, masyarakat Belitung biasa berkumpul dan saling bertukar cerita atau informasi.

Objek wisata yang paling terkenal, tentunya pantai Tanjung Tinggi, yang dijadikan lokasi film “Laskar Pelangi.” Di pantai inilah, yang hanya 30 menit dari pusat kota Tanjung Pandan, saya melihat matahari terbit dengan sempurna. Warnanya yang merah, kuning keemasan berbentuk bulat, tampak sempurna seolah-olah keluar dari laut yang biru dan jernih, yang dihiasi dengan bebatuan besar. Sungguh matahari terbit yang tidak saya lupakan sepanjang hidup saya. Life is beautiful!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s