Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta, Bangunan Bersejarah Bergaya Art Deco

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, di tahun 1900-an, pembangunan di kota Batavia pun mengadopsi gaya bangunan seperti di negara asalnya. Rumah dan kantor dibangun seperti rumah dan kantor di negeri Belanda untuk mendapatkan suasana seperti tempat tinggal para penduduk Belanda di tanah airnya. Kerinduan akan tanah air dan harapan untuk dapat kembali kesana suatu saat nanti juga merupakan alasan untuk mendirikan bangunan yang sama dengan di negerinya. Bahkan wilayah pemukiman, perkantoran dan perdagangan didalam kota Batavia pun diatur seperti di negeri Kincir Angin itu, lengkap dengan kanal-kanal dan taman-tamannya.

Perkembangan gaya bangunan di Batavia kemudian tidak lepas dari perkembangan gaya bangunan di Belanda dan Eropa. Kedatangan bangsa Eropa di kawasan Hindia Belanda, memberikan pengaruh pada gaya bangunan yang didirikan di kota Batavia. Batavia, sebuah kota perdagangan dan pemukiman di kawasan Hindia Belanda, sebisa mungkin dibangun sama dengan kota-kota di Eropa sehingga mengundang banyak orang Eropa untuk berinvestasi dan bekerja mengembangkan kota yang dianggap berpotensial menjadi kota besar di kawasan Hindia Belanda.

Salah satu gaya bangunan yang berkembang dan kemudian cukup berpengaruh pada perkembangan gaya bangunan di Batavia yaitu gaya Art Deco. Gaya bangunan Art Deco sendiri merupakan gaya bangunan yang populer dari 1925 sampai 1939, dengan menampilkan tema elegan, glamor, fungsional, dan modern. Meskipun trend gaya ini tidak lama, namun gaya ini cukup banyak diadopsi menjadi gaya bangunan di Batavia pada waktu itu, karena menampilkan ciri glamor, elegan dan modern, sebuah kesan yang diperlukan untuk bangunan di kawasan koloni seperti Batavia.

Sebetulnya gaya ini merupakan percampuran beberapa gaya dan pergerakan dari awal abad 20, seperti neoclassical dan art nouveau. Karena itu pada implementasinya, gaya ini akan menampilkan bentuk seperti trapesium, simetris, kurva atau motif kuno seperti motif dari suku Maya atau Mesir, dengan penggunaan material seperti aluminium, stainless steel, pernis, dan kayu. Gaya Art Deco mengalami kemunduran pada tahun 1930-an dan bangkit kembali pada era 1980-an, terutama pada seni desain seperti Pop-Art.

Dengan menampilkan gaya Art Deco, pemerintah kolonial Belanda pada saat itu, selain ingin mengikuti trend di Eropa, karena bagaimanapun juga, mereka tetaplah bangsa Eropa meskipun tinggal di daerah koloni, namun sesungguhnya juga ingin menampilkan gaya hidup dan pemikiran bangsa Eropa, yang lebih terdidik, sopan, elegan, mewah sekaligus praktis dan logis daripada bangsa pribumi (Blackburn, 2011). Melalui bangunannya, warga pribumi dapat melihat perbedaan yang jauh antara bangsa Eropa dan pribumi, dan seharusnya memang perbedaan itu diteruskan agar tidak terjadi permasalahan internal di kawasan koloni.

Bangunan Art Deco di Batavia, meskipun menampilkan gaya hidup dan pemikiran bangsa Belanda, namun yang diterapkan di Batavia, juga mengadopsi gaya lokal terutama mengatasi cuaca yang panas di daerah tropis. Adopsi tersebut terlihat dari bentuk serambi yang luas dan ventilasi yang tinggi (A.Heuken, 1998).

Di masa sekarang, kita masih dapat melihat beberapa bangunan terkenal bergaya Art Deco meskipun sudah sangat jarang yang dipertahankan. Beberapa diantaranya seperti di wilayah pemukiman Batavia modern yaitu Menteng, Gambir dan Senen, Adapun keputusan pemerintah kolonial Belanda memperluas wilayah kota Batavia, terutama pemukiman ke beberapa daerah dikarenakan ingin mendapatkan lingkungan yang lebih segar dan sehat dibandingkan kota Batavia lama.

Hal tersebut dikarenakan kota Batavia semakin lama semakin tidak sehat oleh tertimbunnya kali atau saluran air oleh lumpur, dan mengalami pendangkalan akibat pembuangan kotoran, sampah dan ampas tebu serta letusan gunung Salak tahun 1600 serta salah pengelolaan saluran (A Heuken, 1998). Tidak hanya Menteng, pemerintahan kolonial Belanda juga memperluas pemukiman ke daerah seperti Tanah Abang, Gondangdia dan Meester Cornelis.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Salah satu bangunan bergaya Art Deco yang masih bisa dilihat yaitu Museum Perumusan Naskah proklamasi di Jalan Imam Bonjol No.1 Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan museum yang didirikan pada tahun 1920 ini, dirancang oleh arsitek Belanda, J.F.L.Blankenberg.

Bangunan museum yang pada masa pemerintahan Belanda ini berlokasi di Nassau Boulevard No.1, memiliki luas tanah 3.914 m2 dan luas bangunan 1.130,10 m2. Ketika pecah Perang Pasifik, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Di masa penjajahan Jepang, gedung pun didiami oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan laut dengan Angkatan Darat Jepang sampai dengan 1945. Nama jalan lokasi gedung yang awalnya bernama Nassau Boulevard No.1 pun diubah menjadi Meijidori.

Pada masa itulah, terjadi peristiwa penting di dalam bangunan yang pernah dipakai oleh kantor asuransi ‘Nilmij’ pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada 16 Agustus 1945 malam, sepulangnya dari Rengasdengklok, Bung Karno, Bung Hatta dan Mr Ahmad Soebardjo mendatangi rumah Laksamana Maeda tersebut yang bersedia rumahnya menjadi tempat rapat persiapan proklamasi. Di rumah itulah, naskah proklamasi dirumuskan, dan diketik oleh Seyuti Malik lalu ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta mewakili bangsa Indonesia.

Tidak hanya itu, pada 17 November 1945, gedung ini pun menjadi saksi peristiwa perundingan awal antara pihak Indonesia dan pihak Belanda, dengan difasilitasi oleh Inggris, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui diplomasi.

Sayangnya, peninggalan detik-detik menuju proklamasi tersebut hanya tertinggal bangunannya saja, sedangkan mesin tik, pulpen untuk menandatangani dan barang-barang bersejarah lainnya, hanyalah replika dari masa tersebut. Gedung museum ini pun pada masa setelah kemerdekaan, dipakai sebagai Markas Tentara Inggris dijadikan kediaman resmi Dubes Inggris, sampai terjadinya nasionalisasi dan pemindahan asset dari bangsa asing ke bangsa Indonesia.

Gedung ini kemudian di serahkan ke Departemen Keuangan, dan dikelola oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya yang mengkontrakkannya ke Kedutaan Inggris di tahun 1961. Selama dua puluh tahun, tepatnya tahun 1981, gedung bersejarah bergaya Art Deco ini ditempati oleh Kedutaan Inggris, tanpa seorang pun memikirkan barang bersejarah yang ada didalamnya. Dan baru di tahun 1984, gedung ini difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, mengingat peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di gedung ini.

Meskipun sudah tiga puluh tahun menjadi museum, ternyata keberadaan museum ini belum banyak diketahui masyarakat umum, kecuali oleh para pelajar, pengajar, sejarawan atau para keluarga dari tokoh nasional yang namanya tersebut di museum ini. Museum ini memang hanya sebentar digunakan sebagai tempat peristiwa penting, yaitu perumusan, penulisan serta pengetikan naskah proklamasi, yang dibacakan di jalan Pegangsaan, Jakarta. Walaupun begitu, museum ini memiliki kenangan tersendiri didalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Dari hasil survey yang dilakukan pada orang yang berkegiatan di Jakarta (bekerja atau tinggal di Jakarta), ternyata hanya 30% orang yang mengenal bangunan museum. Padahal lokasi museum ini berada di salah satu jalan utama yang dilalui oleh kendaraan umum dan pribadi setiap hari, berlokasi di salah satu kawasan elit Jakarta dan disebelah rumah ibadat yang tiap minggu dipakai sebagai tempat beribadat. Dari 30% orang yang mengenal bangunan museum, 15% dapat mengatakan lokasinya, 10% tidak mengetahui lokasi bangunan museum ini dan 5% tidak menjawab.

Kemudian dari 15% yang mengetahui bangunan museum dan lokasinya, ada 10% yang pernah berkunjung ke museum, dan 5% belum pernah sama sekali. Dari 10 orang yang tahu bangunan museum, lokasi dan pernah berkunjung, ternyata ada 5% yang tidak mengetahui sejarah bangunannya dan 5% yang tahu sejarah bangunan.

Dari survey tersebut dapat disimpulkan bahwa sedikit orang yang bekerja dan tinggal di Jakarta yang mengenal bangunan museum yang ada di Jakarta. Bahkan lebih dari 50% dari mereka tidak mengenal bangunan museum dan lokasinya, apalagi berkunjung. Sedangkan bagi yang pernah mengunjungi bangunan museum, ada kemungkinan bahwa mereka hanya memperhatikan koleksi museum, tidak memperhatikan bangunannya dan sejarahnya. Padahal Museum Perumusan Naskah Proklamasi menjadi bersejarah karena bangunannya yang memiliki gaya yang tidak biasa ditemukan di rumah-rumah di Jakarta dan tempatnya perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Daftar Pustaka

“Hikayat Jakarta,” Willard A.Hanna, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1988

“The Jakarta Explorer,” Indonesian Heritage Society, 2001

“Betawi, Queen of The East,” Alwi Shihab, Penerbit Republika, 2002

“Jakarta Sejarah 400 Tahun,” Susan Blackburn, Masup Jakarta, 2011

Foto 2, 3 dan 4 : Koleksi Pribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s