Kunjungan ke Makam Leluhur pada Perayaan Ceng Beng

Aku membakar hio dan membungkuk sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa di depan makam leluhurku. Hari ini merupakan hari Ceng Beng atau kunjungan kepada leluhur yang sudah tiada. Ceng Beng atau Qing Ming (artinya bersih atau jernih), merupakan perayaan tradisional Tionghoa yang sudah dilakukan secara turun temurun, sejak generasi pertama etnik Tionghoa datang ke nusantara.

Ceng Beng dilakukan untuk menghormati leluhur, membersihkan kubur dan piknik, atau makan bersama di makam selain bersembahyang tentunya. Menurut sejarah, tradisi ini sudah ada sejak masa Dinasti Qin dan Han, dinasti yang berkuasa di daratan Tiongkok beribu-ribu tahun yang lalu.

Ritual ketika mengunjungi makam selain menyalakan hio sebagai tanda dukacita, dan membungkuk sebanyak tiga kali, kami juga harus menyalakan sepasang lilin yang konon sebagai persembahan pada dewa penjaga makam. Tidak lupa juga memberikan bunga dan membakar uang roh serta menuangkan arak ke tanah sebagai penyucian. Kami juga akan membersihkan makam seperti membersihkan rumput liar, menambah tanah atau menanam tanaman perdu. Kebiasaan membungkuk sebanyak tiga kali pada masa lalu dilakukan dengan cara menyembah. Kami juga biasanya membawa makanan persembahan dan diletakkan di makam. Sebagian juga kami makan sendiri, karena itu perayaan Ceng Beng juga menjadi ajang piknik keluarga.

Ada hal-hal yang tabu untuk dilakukan pada perayaan Ceng Beng ini seperti perayaan ini tidak boleh dilakukan pada senja atau malam hari karena pada waktu tersebut dipercaya energi positif akan berkurang, digantikan energi negatif yang dapat memberikan gangguan pada orang yang ciong atau sial. Kami juga tidak diperbolehkan membuat keributan, meludah dan buang air kecil di sekitar makam. Mengkritik dan melangkahi makam lain juga dianggap hal yang tabu. Makanan yang kami bawa hanya dapat dimakan bersama-sama setelah semua ritual selesai sambil menunggu padamnya hio dan lilin. Setelah hio dan lilin habis, baru kami berjalan pulang.

Perayaan Ceng Beng saat ini sudah mulai jarang dilakukan oleh orang Tionghoa, karena kebanyakan setelah orangtua atau sanak keluarga meninggal, akan langsung dikremasi. Kremasi dianggap lebih lebih cepat dan mudah, karena abunya dapat dibawa bersama-sama keluarga apabila keluarga akan pindah. Ataupun kalau tidak ingin menyimpan abu nya, abu dapat disimpan di rumah abu.
Tidak hanya itu, menjalankan tradisi leluhur sering dianggap ‘kuno’ atau ‘ketinggalan jaman’ oleh kalangan muda saat ini. Padahal tradisi yang unik seperti ini-lah yang menjadi kekayaan bangsa dan membuat kita bangga karena memiliki tradisi yang unik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s