Dewa Utama Masyarakat Tionghoa

Masyarakat Tionghoa memiliki budaya yang unik, sebagai hasil percampuran budaya Tiongkok dengan budaya lokal. Budaya yang unik tersebut kemudian menjadi salah potensi untuk pengembangan wisata religi. Wisata religi, dikarenakan masih ada masyarakat Tionghoa yang mengikuti kepercayaan leluhur dari masa Tiongkok kuno.

Didalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, ada satu sosok yang mendapat tempat sebagai dewi utama di klenteng atau bio. Dewi ini yaitu Dewi Kwan Im (dalam bahasa mandarinnya disebut Guan Yin). Dewi ini dikenal secara luas sebagai Dewi welas asih dan sangat populer tidak hanya di Tiongkok saja tetapi juga di Jepang (yang disebut Kanzeon/Kannon) dan Asia Tenggara.

Masyarakat Tionghoa yang masih mengikuti kepercayaan leluhur mereka percaya bahwa Kwan Im dapat mendengarkan keluh kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda-beda. Patung Kwan Im biasanya dalam perwujudan berbaju putih. Bentuk ini paling disukai dan paling populer diantara bentuk-bentuk lain. Patung Kwan Im baik yang bentuk dalam keadaan duduk atau berdiri, mempunyai makna sendiri-sendiri. Kebanyakan orang akan memilih yang dalam posisi duduk, sebab bentuk ini menimbulkan kesan tenang, tenteram dan anggun, merupakan gambaran pencerahan yang sempurna.

Bentuk Kwan Im yang berdiri melambangkan geraknya yang penuh kasih sayang. Ini diartikan oleh para pemujanya bahwa tindakannya yang penuh kasih dan sayang itu mempunyai kekuatan untuk mencapai siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Kwan Im selalu siap menghampiri dan membantu dengan uluran kasih sayang dan perlindungan. Makna lain yang tersirat bentuk berdiri ini adalah melambangkan kesetiaan Kwan Im untuk memberikan pencerahan kepada siapa saja yang menginginkan.

Dewa lain yang juga sering mendapatkan tempat di latar utama klenteng yaitu Dewa Bumi atau disebut Hok Tek Cin Sin. Ada kisah yang mengatakan bahwa Hok Tek Cin Sin adalah Zhang Fu De, seseorang yang pernah hidup di zaman Dinasti Zhou (Masa Kaisar Zhou Wu Wang). Zhang Fu De lahir pada tahun 1134 SM, sejak kecil telah menunjukkan bakat sebagai orang pandai dan berhati mulia. Beliau menjabat Menteri Urusan Pemungutan Pajak Kerajaan.

Dalam menjalankan tugasnya ia selalu bertindak bijaksana & tidak memberatkan rakyat, sehingga rakyat sangat mencintainya. Ia meninggal pada usia 102 tahun. Jabatannya digantikan oleh Wei Chao, seorang yang tamak & kejam. Rakyat sangat menderita karena Wei Chao tidak mengenal kasihan dalam menarik pajak. Karena derita yang tak tertahankan, rakyat banyak yang pergi meninggalkan kampong halamannya, sehingga sawah ladang banyak yang terbengkalai. Dalam hati mereka amat mendambakan seorang bijaksana seperti Zhang Fu De yang telah wafat itu. Lalu mereka memuja nya sebagai tempat memohon perlindungan.

Hok Tek Cin Sin sering digambarkan sebagai kakek berjanggut putih, berpakain putih dengan wajah yang welas asih dan ramah. Selain Kwan Im dan Hok Tek Cin Sin, ada dewa lain yang juga biasa ditemui di klenteng atau bio yaitu Kha Lam Ya (Qie Lan Ye dalam bahasa Mandarin) dan Kwan Seng Tee Kun (Guan Di dalam bahasa Mandarin).

Kha Lam Ya adalah salah satu Malaikat Pintu versi umat Buddha yang sering ada di gambar di daun pintu bersama-sama Wei Tho Po Sat/Wi Tuo. Kha Lam Ya bertampang bengis, wajahnya hitam berewok, dan berpakaian perang lengkap dengan membawa kampak sebagai senjatanya, sedangkan Wei Tho/Wi Tuo berpakaian perang lengkap dengan membawa “Gada Penakluk Iblis”. Hari lahirnya (she jit) pada tanggal 1 bulan 5 penanggalan Imlek (Si Gwee Ce It), sedangkan hari rayanya pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek (Pe Gwee Cap Go).

Sedangkan Kwan Seng Tee Kun atau Kwan Tee umumnya disebut Kwan Kong. Kwan Kong adalah seorang panglima perang kenamaan yang hidup pada jaman Sam Kok (San Guo) pada tahun 221-268 Masehi. Nama aslinya adalah Kwan I (Guan Yu) alias Kwan In Tiang (Guan Yu Chang). Kwan Kong dipuja karena kesatyaannya (tiong/chung) dalam menjunjung tinggi kebenaran/keadilan/kewajiban (gie/yu), bahkan rela mengorbankan nyawanya demi prinsipnya tersebut. Hal ini dapat disimak dalam buku roman sejarah Sam Kok (San Guo) yang sangat terkenal. Oleh karenanya, untuk menghormati serta mengenang pribadinya yang luhur, beliau sering dilambangkan sebagai ‘Tiong Gie Cing Ciu’, artinya menjunjung nilai kesatyaan serta kebenaran/keadilan/kewajiban sampai akhir hayat.

Kwan Kong sering digambarkan dalam posisi duduk sedang membaca Chun Ciu Keng (Chun Qiu Jing), yaitu kitab suci yang ditulis oleh nabi Khongcu; dengan didampingi putra angkatnya, Kwan Peng (Guan Ping), yang memegang cap kebesaran dan Ciu Chong (Zhou Chang) pengawalnya yang setia, berwajah hitam berewokan, dan memegang golok Ching Liong Yan Gwat To atau golok naga hijau (berbentuk bulan sabit) yang merupakan senjata andalan tuannya. Hari kelahiran (she jit) Kwan Peng pada tanggal 13 bulan 5 penanggalan Imlek (Go Gwee Cap Sha), sedangkan hari kelahiran (she jit) Ciu Chong pada tanggal 30 bulan 10 penanggalan Imlek (Cap Gwee Sha Cap).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s