Jelajah Singkat di Tanah Cendana

Panasnya sinar matahari disertai hembusan angin yang sejuk menerpa saya begitu sampai di bandara El-Tari, Kota Kupang. Lega akhirnya sampai juga di salah satu kota tua di wilayah Timur Indonesia, yang sudah terkenal sejak masa kolonial Belanda sebagai kota perdagangan cendana, cengkeh dll. Bahkan karena cendana-lah Belanda kemudian menguasai pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur ini. Menurut informasi yang saya baca, disekitar bandara ini terdapat empat titik udara hampa, oleh karena itu rasanya sungguh melegakan ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di El-Tari.

Perjalanan singkat saya di tempat asal cendana, dimulai dengan menaruh barang bawaan di Hotel Astiti, sebuah hotel sederhana dengan tarif bersahabat yang tidak jauh dari pasar tradisional Naikuten. Sore harinya saya bersama seorang kawan pun mengunjungi pantai Lasiana sambil menunggu matahari tenggelam.
Pantai Lasiana, sebuah pantai yang terkenal di kota Kupang dan menjadi tempat paling teratas untuk bersantai, karena di pantai ini kita bisa bermain-main di pasirnya yang tebal dan bersih, berenang-renang ataupun duduk-duduk dibawah pohon kelapa. Ketika matahari pun mulai tenggelam, seburat merah jingga dan kuning terlihat indah seperti lukisan. Seolah-olah sang surya tenggelam kedalam laut Timor yang berombak sedang.

Pantai Pasar Solor

Di malam hari, kami makan malam dengan hidangan laut di jalan raya Timor. Sebuah restoran hidangan laut yang ramai dimana kita bisa memilih sendiri hasil laut yang akan dikonsumsi dan cara masaknya. Setelah makan malam, kami pun duduk-duduk sambil menikmati suara dan hembusan angin laut di Kampung Solor. Disini kami makan jagung bakar atau rebus dengan pilihan rasa, manis, asin dan pedas. Sungguh nikmatnya…..

Ketika mentari pagi sudah hadir, kami pun mengawali hari dengan membeli pisang di pasar tradisional Naikuten. Pisang, buah yang terkenal di daerah ini karena rasa pisangnya yang manis dan ukurannya yang besar. Kemudian kami mengunjungi gereja katolik Kristus Raja atau dikenal dengan nama katedral Kupang untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan lama di kota ini sekaligus berdoa di makam uskup agung pertama Kupang yang terletak di tepat di sisi timur gereja. Terlihat ornamen mozaik kaca bergambar peristiwa penyaliban Yesus dan gambar keagamaan lainnya menghiasi pintu masuk dan jendela gereja. Gereja yang dulunya bernama Gereja Bonipoi ini didirikan sekitar 1910-an Ini merupakan gereja katolik pertama dan terbesar di Kupang.

Katedralkupang1

Setelah itu kami pun mengunjungi museum negeri Nusa Tenggara Timur, sebuah bangunan dengan atap khas suku Timor. Kondisi museum cukup memprihatinkan. Gedung dengan atap yang sudah kusam, sepi pengunjung, bahkan hanya kami satu-satunya pengunjung hari itu, dan koleksi yang terlihat berdebu. Sebuah display yang menarik yaitu adanya pameran tentang kehidupan masyarakat lokal, menampilkan artefak, diorama dan foto yang cukup menarik. Tidak heran karena pameran tersebut didukung sebuah lembaga internasional yang cukup terkenal dikalangan masyarakat sipil.

Gedung Museum

Dari museum, kami pun makan siang di warung bakso yang cukup terkenal di kota ini, yang berlokasi berdekatan dengan istana Gubernur. Kami hanya mampu menikmati istana Gubernur dari kejauhan karena tidak diperbolehkan sembarangan masuk. Bakso di kota ini terbuat dari daging sapi asli dan semuanya daging tidak bercampur dengan urat, jadi cukup puas dan kenyang. Tidak mengherankan karena daerah Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu penghasil hewan ternak sapi terbaik di Indonesia. Bahkan dagingnya sudah dipasarkan ke pulau lain seperti Jawa.

Hal terbaik dari kuliner di kota ini, porsi makanan berukuran besar, sehingga apabila makan beramai-ramai menjadi lebih hemat karena dapat berbagi makanan yang dipesan. Setelah kenyang makan bakso, kami pun pergi ke kantor pos besar di daerah Oesapa untuk membeli kartu pos khas Nusa Tenggara Timur. Kami hanya mendapatkan kartu pos bergambar Kelimutu dan Komodo saja.

Klenteng Lay4-Kupang

Dari sana kami memutuskan ke daerah Pecinan di dekat kawasan Kampung Solor. Kami pun mengunjungi klenteng yang didirikan pada 1865. Klenteng bernama Siang Lay ini sebetulnya merupakan rumah doa, abu dan duka bagi keluarga Lay pada awalnya, namun dikarenakan tidak ada lagi klenteng di kota Kupang, maka rumah sembahyang keluarga inipun berfungsi menjadi klenteng bagi masyarakat Tionghoa di Kupang. Klenteng ini hanya ramai pada saat perayaan hari-hari Tionghoa seperti tahun baru imlek atau cap go meh. Sebelum memasuki klenteng, kami melalui pintu gerbang klenteng yang dibangun pada 1976 bertepatan dengan tahun Naga Air. Menurut penjaga klenteng, tahun tersebut merupakan tahun diperbaikinya klenteng, sedangkan berdirinya sejak 1865.

Kampung Solor sendiri merupakan kota lama Kupang, dimana pemukiman Tionghoa dan Arab berdekatan. Disinilah para pendatang dari pulau Timor diijinkan oleh raja Timor mendirikan pemukiman, sekaligus membangun perdagangan di kota Kupang.

Setelah puas berkeliling klenteng, kami pun singgah di toko souvenir untuk membeli beberapa souvenir seperti kaus dan dompet. Namun kami memutuskan tidak membeli kain tenun atau selendang tenun disitu karena harganya bisa lebih mahal dibandingkan di pasar. Kami memutuskan membeli kain tenun di pasar tradisional saja. Sedangkan untuk oleh-oleh makanan, kami membeli di toko Soekiran, toko khas oleh-oleh Nusa Tenggara Timur. Dan kali ini saya memilih membeli kacang madu kayu manis. Kacang, merupakan salah satu hasil bumi yang terkenal dari daerah ini, dan kacang dari sini rasanya renyah.

Pantai Oesapa

Tak terasa berjalan-jalan di kota Kupang sampai menjelang sore. Kami sudah menikmati suasana kota, membeli buah tangan, Kami pun pergi ke pantai Oesapa melihat perkampungan nelayan di sana dan tanaman bakau yang ditanami oleh nelayan di wilayah tersebut. Pemandangan yang unik ketika kami mengunjungi perkampungan Nelayan yaitu banyaknya babi dengan ukuran kecil dan besar berkeliaran. Setelah menikmati proses matahari tenggelam di sekitar tanaman bakau di pantai berpasir tebal ini, kami pun menuju ke rumah makan hidangan laut. Kami memang sudah berjanji bahwa selama berada di kota ini, kami akan menikmati kuliner hidangan laut segar dan berukuran besar yang dibawa langsung dari pantai di sekitar kota Kupang. Makan malam ini merupakan makan malam terakhir kami di kota Kupang, karena esok kami sudah harus kembali ke Jakarta dan kembali melakukan kegiatan.

Hari terakhir di Kupang, pagi hari kami menyempatkan diri menuju pasar tradisional untuk membeli selendang tenun. Kain tenun warna-warni yang ditenun sendiri oleh para perempuan Timor dengan motifnya yang sangat indah, sehingga saya bingung memilihnya. Akhirnya saya pun memilih kain bermotif khas Timor berwarna merah bercampur hijau, dua warna kesukaan saya.

Karena pesawat kami penerbangan sore, hari itu kami juga sempat mengunjungi pantai disekitar kota Kupang, pantai yang berada pas didepan sebuah hotel berbintang. Kami menikmati udara pantai dan melihat air laut yang bersih dan bening sehingga terlihat karangnya.

Setelah puas menikmati pantai dan memilih selendang tenun, kami pun pergi ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Sampai bertemu lagi Kupang, saya akan selalu merindukan tempat ini, meskipun panas, namun hidangannya luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s