Museum Sumpah Pemuda, Saksi Sejarah Gerakan Pemuda Tionghoa

Kiprah pemuda tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia seringkali diragukan. Tidak mengherankan steorotipe tentang orang Tionghoa yang pelit, culas, pedagang, cari untung atau amannya sendiri sudah tertanam sejak ratusan tahun lalu. Stereotipe ini semakin diperkuat dengan adanya pemisahan kelas sosial dalam masyarakat Hindia Belanda waktu itu, dengan menempatkan orang Tionghoa setingkat lebih tinggi dari orang lokal, yang disebut dengan pribumi atau inlander.

Pribumi waktu itu dianggap sebagai golongan masyarakat yang terbelakang, tidak terpelajar atau memiliki pendidikan dan lain sebagainya. Sebutan yang dilegalkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda itu pun mendorong segregasi kelas sosial dalam masyarakat Hindia Belanda waktu itu meskipun dalam kenyataannya, bahwa banyak orang Tionghoa yang miskin dan tidak terpelajar dan banyak orang pribumi yang kaya dan terpelajar, terutama para bangsawan dan keturunan raja atau penguasa di berbagai wilayah di tanah air.

Sejarah seringkali luput mencatat bahwa sesungguhnya banyak orang Tionghoa terutama yang Peranakan (sudah berakulturasi dengan suku lokal) berjuang bersama suku lainnya untuk kemerdekaan Indonesia. Dan nama-nama mereka pun seakan terlupakan bersama jaman. Namun untuk melihat perjuangan etnik Tionghoa yang berjuang bersama pejuang-pejuang Indonesia lainnya, kita bisa melacaknya melalui peninggalan sejarah yang masih ada. Salah satunya bangunan. Meskipun tidak mampu bersuara lantang mengenai sejarah yang sedang berlangsung didalamnya, bangunan mampu menampilkan dengan caranya sendiri jejak-jejak sejarah suatu bangsa. Seperti rumah pondokan siswa di kawasan Kramat Raya bernomor 106, Jakarta Pusat.

Rumah pondokan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai kalangan dan etnik ini, berdiri seiring dengan perkembangan pendidikan di Hindia Belanda yang sudah mengakomodir para anak muda dari berbagai tempat di nusantara, yaitu pada abad ke-20. Rumah pondokan atau internat atau kostschool bernomor 106 ini berluas 1.041 m2, awalnya merupakan tempat kost para pemuda Jawa, yang dimiliki oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Sie Kong Liong.
Berawal dari perkumpulan olahraga dan seni, para pemuda kemudian mengembangkan tempat ini menjadi tempat berdiskusi mengenai persoalan bangsa Hindia Belanda, terutama dengan meningkatnya gerakan nasionalisme dimana-mana. Akhirnya pada September 1926, mahasiswa yang tinggal di pondokan tersebut mengumumkan berdirinya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan pondokan sekaligus sebagai sekretariatnya.

Diskusi-diskusi mengenai negara dan keadaan masyarakat Hindia Belanda terutama berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia semakin intens dengan adanya PPPI, hingga tahun 1928, bangunan pondokan ini diberi nama Indonesische Clubgebouw disingkat IC, dengan papan nama dipasang didepan bangunan. Tindakan yang berani, bagi pemilik dan penghuni pondokan.

Di tahun 1928 jugalah, tepatnya 28 Oktober, dilakukanlah kongres pemuda sekaligus mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Di momen Sumpah Pemuda inilah, pertama kali nya lagu kebangsaan Indonesia dimainkan dengan biola oleh pemuda bernama W.R.Supratman. Lalu dimana pemuda Tionghoa? Berdasarkan catatan pada rapat hari tersebut dan sebelumnya, tercatat ada nama-nama pemuda Tionghoa yang hadir, yaitu John Lauw Tjoan Hok, Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, Saerun (Keng Po) dan Tjio Djien Kwie. Salah satu diantara mereka, bekerja pada koran Sin Po, sebuah harian berbahasa Melayu Tionghoa yang memuat pertama kalinya naskah lagu Indonesia Raya. Sebuah tindakan yang berani pada jamannya. Catatan ini juga sekaligus menandai bahwa ada partisipasi pemuda Tionghoa dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, dan semakin menguat rasa nasionalisme pemuda Tionghoa pada masa-masa berikutnya. Bangunan museum sumpah pemuda, merupakan salah satu saksi adanya pemuda TIonghoa berjuang bersama pemuda lainnya untuk kemerdekaan Indonesia.

Sumber bacaan : “Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda,”2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s