Plesiran ke Payakumbuh

Payakumbuh, sebuah kota lama, bukanlah menjadi tujuan wisata utama ketika orang-orang berkunjung ke tanah Minangkabau selama ini. Namun dengan adanya para petualang, pejalan kaki dan netizen yang rajin menyuguhkan panorama indah dari kota-kota lama di Tanah Minangkabau seperti Sawahlunto, Bukittinggi dll., membuat Payakumbuh semakin dikenal. Dan berkunjunglah saya ke kota kecil yang dapat ditempuh sekitar 3 jam dari kota Padang ini.
Sebagai kota lama, kita masih bisa melihat rumah-rumah Gadang yang dipertahankan di kota ini. Posisi Datuk, sebagai pimpinan adat pun masih dipandang di negeri yang berada di perbukitan ini. Karena lokasinya berada di perbukitan, udara sejuk pun terasa ketika berada di kota kelahiran Tan Malaka dan ayah dari Bung Hatta.

Ya, nama-nama besar seperti Tan Malaka dan Bung Hatta, berasal dari negeri yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbaik. Dan, memang sepanjang mata memandang, hamparan padi seperti di lukisan indis terpampang. Tidak hanya itu, di Payakumbuh kita dapat mengunjungi tempat-tempat yang asyik untuk berlibur atau melepas lelah.
Tempat pertama yang dikunjungi yaitu Lembah Harau. Tempat yang sedang nge-hits ini berada di kabupaten Lima Puluh Kota. Lembah Harau ini merupakan tempat berupa pemandangan lembah dengan beberapa air terjun yang keluar dari celah-celah lembah. Sayangnya pada musim kemarau, beberapa air terjun ini tidak terlihat karena kering. Di sebuah dataran, bagian dari lembah, orang-orang biasa melakukan aktivitasnya disana. Ada penginapan berbentuk rumah adat Minangkabau, sungai kecil lengkap dengan jembatannya dan area bermain, tentu saja area berfoto-foto tidak ketinggalan.


Setelah puas bermain dan berfoto-foto di Lembah Harau, kita bisa menikmati makan siang di sebuah rumah makan yang menyajikan masakan khas Payakumbuh, bernama Kadai Nasi Tangah Sawah Sawah Darek. Menu special di tempat ini yaitu bebek dan belut.

Tempat wisata kedua yang akan dikunjungi yaitu Padang Mangeteh. Tempat ini sebetulnya bukan ditujukan untuk tempat wisata, karena disini lah peternakan sapi terbesar di Indonesia. Padang Mangeteh menjadi tempat beternak sapi karena udaranya cocok dan lokasi yang jauh dari pemukiman. Pemerintah pernah menutup tempat ini untuk masyarakat karena dianggap mengganggu kehidupan para sapi, namun kemudian membuka nya kembali namun dengan ijin tentunya.

Wisata kuliner merupakan hal yang tidak terlewatkan dalam kunjungan ke suatu daerah. Sore hari, hal yang cocok apabila menikmati es campur khas Payakumbuh. Es Tebak Pak Haji Bakar merupakan es campur pertama di Payakumbuh. Berlokasi tidak jauh dari pasar kota Payakumbuh, es campur bernama es tebak ini dapat dinikmati dengan harga 5000 rupiah untuk satu porsi nya.

Malam hari, kita bisa menikmati kuliner di pusat kuliner kota Payakumbuh, seperti sate padang, soto padang, martabak dan lain-lain atau di warung-warung makan nasi, yang menyajikan makanan khas Minangkabau. (Diyah Wara)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s